Rencana latihan angkatan laut di kawasan perairan sebelah timur Taiwan yang melibatkan armada militer China dan kapal perang Indonesia langsung menjadi sorotan hangat dunia internasional. Kementerian Pertahanan China menyampaikan secara resmi pada Selasa (11/8) bahwa salah satu kapal perangnya bersiap menggelar latihan pelayaran bersama sebuah kapal fregat milik TNI Angkatan Laut pada pertengahan Agustus. Pihak Beijing menyebutkan bahwa tujuan utama penggelaran latihan pelayaran di lepas pantai timur Taiwan tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan operasional gabungan kedua angkatan laut, sekaligus secara bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan regional. Namun, pengumuman jadwal kegiatan ini bertepatan dengan momentum sensitif karena dilangsungkan sewaktu Taiwan tengah menggelar latihan militer tahunan terbesar untuk mempersiapkan penduduknya menghadapi potensi invasi.
Pengumuman latihan bersama tersebut direspons keras oleh pemerintah Taiwan hingga memicu ketegangan di wilayah perbatasan laut. Pihak Taiwan melalui Dewan Urusan Daratan mengutuk keras rencana latihan tersebut dan mengecapnya sebagai bentuk provokasi militer dari Partai Komunis China (CCP). Menurut penilaian otoritas di Taipei, langkah diplomasi militer yang diambil Beijing di perairan timur Taiwan pada kenyataannya bertujuan untuk menciptakan kesan palsu kepada komunitas internasional seolah-olah CCP memegang hak yurisdiksi atas wilayah perairan tersebut. Selain itu, Taiwan menegaskan bahwa kegiatan tersebut secara terang-terangan telah melanggar kedaulatan nasional serta hak dan kepentingan maritim mereka. Terlebih lagi, Beijing secara rutin memang menempatkan kapal perang, jet tempur, dan kapal penjaga pantai di sekeliling Taiwan hampir setiap hari guna memperkuat klaim kedaulatannya.
Gempa M 4,3 Terjadi di Sukabumi, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami

Di tengah meningkatnya eskalasi tanggapan dari Taiwan, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) memberikan penjelasan transparan mengenai status sebenarnya dari kegiatan tersebut. Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksamana Pertama TNI Tunggul, memberikan konfirmasi resmi pada Rabu (12/8/2026) untuk meluruskan persepsi publik. Kadispenal menegaskan bahwa kegiatan passing exercise yang dilaksanakan dengan pihak militer China tersebut bukan merupakan bentuk latihan perang (warfighting). Latihan passing exercise atau passex dijelaskan sebagai tradisi angkatan laut yang berlaku secara universal di seluruh dunia ketika armada kapal perang melintas di wilayah laut suatu negara.
Rekam jejak pelayaran kapal perang Indonesia tersebut berawal dari agenda latihan internasional di kawasan utara. Kapal Perang Indonesia KRI I Gusti Ngurah Rai (GNR)-332 diketahui tiba di Pier 33, Vladivostok, Federasi Rusia pada 23 Juli 2026. Kedatangan kapal fregat tersebut adalah untuk mengikuti Latihan Bersama (Latma) ORRUDA (Orel Garuda) 2026 yang melibatkan TNI AL dan Angkatan Laut Federasi Rusia. Rangkaian Latma ORRUDA 2026 diselenggarakan dalam dua tahapan utama, yakni Harbour Phase pada 24-26 Juli 2026 serta Sea Phase pada 27-28 Juli 2026. Setelah menyelesaikan seluruh agenda di Rusia, KRI I Gusti Ngurah Rai memulai perjalanan lintas laut (linla) kembali menuju tanah air, di mana sepanjang jalur pelayaran kembali tersebut dilaksanakan latihan passing exercise dengan armada angkatan laut dari negara-negara yang dilewati.
Gempa M 4,3 Guncang Sukabumi, Terasa hingga Cianjur dan Bandung Barat

TNI AL menerangkan bahwa pelaksanaan passing exercise ini berfungsi sebagai bentuk goodwill engagement yang lazim diterapkan oleh militer maritim global. Kegiatan passex ini memanifestasikan persaudaraan angkatan laut (naval brotherhood) sekaligus menjalankan fungsi diplomasi maritim yang secara alami melekat pada pengoperasian kapal perang saat berlayar di perairan internasional. Pijakan utama dari keikutsertaan TNI AL dalam kegiatan ini berlandaskan pada prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Melalui doktrin bebas aktif tersebut, Indonesia membuka peluang kerja sama yang menguntungkan dengan negara mana pun di dunia, termasuk menjalankan giat passex secara profesional tanpa mengindikasikan keterlibatan dalam konfrontasi atau gladi tempur strategis di kawasan.






