Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa penguatan literasi, numerasi, dan integrasi pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di Indonesia harus diiringi oleh konsistensi kebijakan yang nyata dan berkelanjutan. Penegasan ini muncul di tengah langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang tengah aktif mendorong transformasi pendidikan melalui penguatan budaya literasi, numerasi, serta pendekatan STEM berbasis standar PISA.
Capaian kompetensi dasar siswa di tingkat nasional masih menghadapi tantangan besar. Data Asesmen Nasional 2025 mencatat bahwa baru 55,7 persen siswa sekolah dasar yang berhasil mencapai batas minimum kompetensi literasi membaca. Secara keseluruhan, sekitar 50 persen siswa di Indonesia tercatat belum mencapai standar minimum dalam hal kecakapan literasi maupun numerasi.
Kesenjangan Skor PISA dan Akses Perangkat Belajar
Kondisi capaian belajar tersebut sejalan dengan dinamika skor evaluasi internasional. Pada pembaruan skor PISA terbaru dibandingkan periode 2022, skor sains Indonesia mencatat kenaikan enam poin menjadi 389, sementara skor membaca turut meningkat enam poin ke angka 365. Namun, skor matematika justru mengalami penurunan dua poin menjadi 364.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Selain evaluasi hasil belajar, tantangan pemerataan fasilitas teknologi antardaerah masih cukup lebar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kepemilikan komputer atau laptop untuk kebutuhan belajar di wilayah perkotaan telah mencapai 65 persen. Angka ini berbanding terbalik dengan wilayah perdesaan yang baru menyentuh kisaran 28 persen, sehingga berpotensi memperlambat pemerataan mutu pendidikan digital.
Implementasi Pelatihan Guru dan Pendekatan Belajar Mendalam
Untuk menjembatani berbagai ketimpangan tersebut, Lestari menekankan pentingnya efektivitas program peningkatan kapasitas tenaga pendidik. Pelatihan guru melalui komunitas belajar, pembelajaran STEM, materi coding, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan administratif, melainkan benar-benar diterapkan di ruang kelas dan mengubah metode pengajaran secara langsung.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Lestari turut mengapresiasi penerapan pendekatan 'Belajar Mendalam' (Deep Learning) yang diarahkan agar kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih kontekstual dan bermakna. Kendati demikian, efektivitas model ini menuntut kesiapan dukungan sarana yang memadai di setiap satuan pendidikan, mulai dari penyediaan bahan ajar yang relevan hingga perhatian berkelanjutan terhadap tingkat kesejahteraan para guru di lapangan.






