Amerika Serikat memiliki pesawat nirawak atau drone berketinggian tinggi yang dirancang untuk memata-matai wilayah musuh dalam cakupan sangat luas. Menurut informasi dari Angkatan Udara Amerika Serikat (U.S. Air Force), pesawat tanpa awak canggih tersebut bernama RQ-4 Global Hawk.
RQ-4 Global Hawk dirancang untuk menjalankan misi intelijen, pengawasan, serta pengintaian di berbagai belahan dunia. Pesawat nirawak ini mampu beroperasi secara optimal dalam segala kondisi cuaca, baik pada waktu siang maupun malam hari.
Daya Jelajah dan Kemampuan Terbang
Salah satu keunggulan utama RQ-4 Global Hawk adalah ketahanan terbangnya yang luar biasa. Drone ini memiliki jangkauan jelajah hingga 12.300 mil laut (nautical miles) dan sanggup terbang tanpa henti tanpa perlu melakukan isi ulang bahan bakar selama lebih dari 34 jam. Pada tahun 2014, drone ini bahkan pernah mencatatkan rekor penerbangan dengan durasi mencapai 34,3 jam.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Selain daya tahan terbangnya yang panjang, RQ-4 Global Hawk mampu mengudara hingga ketinggian 60.000 kaki atau sekitar 18.288 meter, memungkinkannya mengawasi area daratan musuh dari jarak aman di lapisan udara tinggi.
Kelengkapan Sensor dan Sistem Operasi
Untuk mendukung fungsi pengintaian, RQ-4 Global Hawk dilengkapi beragam perangkat canggih. Drone ini dibekali sensor intelijen citra (imagery intelligence/IMINT), sensor intelijen sinyal (signals intelligence/SIGINT), serta sensor pengindikasi target bergerak (moving target indicator/MTI).
Pada varian Block 40, RQ-4 Global Hawk diperkuat dengan radar Active Electronically Scanned Array (RTIP). Teknologi radar ini memiliki kemampuan memetakan radar SAR sekaligus melacak pergerakan target di darat secara presisi.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

RQ-4 Global Hawk melaju dengan kecepatan 310 knot atau sekitar 357 mil per jam (mph). Drone ini murni difungsikan untuk kegiatan pengintaian dan sama sekali tidak membawa senjata.
Seluruh pergerakan dan sistem drone dikendalikan dari darat oleh tiga orang kru jarak jauh. Tim operator ini terdiri dari pilot Launch and Recovery Element (LRE), pilot Mission Control Element (MCE), serta seorang operator sensor yang bertanggung jawab mengelola data pengintaian selama misi berlangsung.






