Krisis air bersih akibat musim kemarau di Nusa Tenggara Barat (NTB) kian meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mencatat bencana kekeringan kini melanda sembilan kabupaten/kota, mencakup 66 kecamatan, 227 desa/kelurahan, serta berdampak langsung pada 84.837 kepala keluarga atau setara 263.310 jiwa.
Menanggapi eskalasi tersebut, Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan. Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, menyampaikan bahwa sembilan daerah berada dalam status siaga kekeringan dengan tiga wilayah di antaranya telah menetapkan status tanggap darurat. Guna meringankan beban warga, BPBD provinsi bersama BPBD kabupaten/kota telah mendistribusikan total 3.382.300 liter air bersih.
Kabupaten Lombok Timur menjadi wilayah dengan sebaran dampak paling parah, yakni mencapai 92.999 jiwa di 41 desa, dengan realisasi pasokan air bersih yang baru tersalurkan sebesar 40.000 liter. Kontras dengan hal tersebut, Kabupaten Sumbawa Barat yang menetapkan status tanggap darurat mencatat 5.795 jiwa (1.690 KK) terdampak di 8 desa dan telah menerima distribusi air bersih sebanyak 1,35 juta liter.
KPK Dalami Nusron Wahid di Kasus Summarecon, Presiden Tak Ikut Campur

Wilayah lain yang turut mengalami krisis meliputi Kabupaten Sumbawa dengan 42.728 jiwa terdampak (640.000 liter air terdistribusi), Lombok Tengah sebanyak 33.695 jiwa (460.000 liter), Kabupaten Bima sebanyak 28.894 jiwa (320.000 liter), Lombok Barat sebanyak 27.090 jiwa (32.300 liter), Lombok Utara sebanyak 17.855 jiwa (200.000 liter), Kabupaten Dompu sebanyak 8.940 jiwa (340.000 liter), serta Kota Bima dengan 3.287 jiwa terdampak.
Faktor El Nino dan Sebaran Zona Merah
Kondisi kekeringan ekstrem tahun ini diperparah oleh Hari Tanpa Hujan (HTH) yang panjang akibat fenomena iklim global. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), anomali El Ni帽o berada pada kategori sangat kuat dengan indeks mencapai 2,74 derajat Celsius.
RSCM, Siswi Keracunan MBG di Karo Tak Alami Gangguan Fungsi Otak

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menjelaskan bahwa fenomena tersebut memangkas potensi presipitasi secara drastis sehingga curah hujan berada jauh di bawah normal hingga nyaris nihil di seluruh wilayah NTB.
Akibat anomali cuaca tersebut, pemetaan BPBD NTB menempatkan hampir seluruh Pulau Lombok (kecuali sebagian kecil area Lombok Tengah) serta sebagian besar wilayah timur dan barat Pulau Sumbawa ke dalam zona merah Rencana Aksi Kekeringan.






