Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI resmi menyetujui usulan Presiden Prabowo untuk mengangkat Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026–2031. Selain Destry, Komisi XI DPR RI juga menyetujui Aida S. Budiman untuk menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada periode kepemimpinan yang sama.
Langkah penetapan pimpinan bank sentral ini disambut positif oleh pelaku pasar keuangan. Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menyampaikan pandangannya bahwa figur Destry Damayanti memiliki rekam jejak dan posisi yang cukup kuat di lingkungan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Menurutnya, sosok Destry diterima dengan baik oleh para pelaku pasar modal dan investor.
Ketahanan Pengelolaan Moneter dan Sinergi Kebijakan
Penerimaan positif dari kalangan pelaku pasar terhadap kepemimpinan baru BI tidak lepas dari penilaian terhadap kekuatan kelembagaan bank sentral saat ini. Pelaku pasar menilai Bank Indonesia memiliki instrumen yang kuat dan memadai dalam mengelola kebijakan moneter nasional.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Selain kelengkapan instrumen moneter, pasar juga melihat pentingnya koordinasi yang kuat yang telah terjalin antara Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Pemerintah. Sinergi lintas otoritas dalam wadah stabilitas sistem keuangan dinilai menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas makroekonomi serta merespons dinamika pasar keuangan domestik maupun global secara efektif.
Posisi Rupiah dan Prospek BI Rate 2026
Di samping respons terhadap figur pimpinan BI, arah kebijakan suku bunga acuan turut menjadi perhatian pasar. Terkait dengan prospek kebijakan moneter ke depan, Rudiyanto menilai bahwa ruang pemangkasan suku bunga acuan (BI Rate) pada tahun 2026 masih tergolong cukup terbatas.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Keterbatasan ruang pelonggaran suku bunga tersebut dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu posisi nilai tukar Rupiah dan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih diliputi ketidakpastian. Kondisi nilai tukar serta ketidakpastian kebijakan The Fed menjadi pertimbangan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan langkah moneter demi menjaga stabilitas nilai tukar dan perekonomian secara keseluruhan pada periode 2026–2031.






