Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) tengah memverifikasi laporan terkait dugaan perekrutan delapan warga negara Indonesia (WNI) ke dalam dinas militer Rusia. Langkah penelusuran ini dilakukan melalui perwakilan RI di Rusia serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga terkait di dalam negeri.
Kabar dugaan keterlibatan warga Indonesia tersebut pertama kali mencuat setelah Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU) merilis dokumen identitas delapan WNI di situs resminya. Kedelapan nama yang dipublikasikan tersebut mencakup Yuda Putra Pratama, Haryanto Dwi Kencana, Erwanda, Ngangun Hudri Fadli, Muhammad Syaripudin, M Hadi Maulana, Wahyu Oktavian Iskandar, dan Helmi Nuraha Hakim.
Modus Tawaran Kerja Bergaji Tinggi
Berdasarkan keterangan intelijen Ukraina, para rekrutan diduga tergiur oleh tawaran kompensasi finansial tinggi, penempatan tugas non-tempur, percepatan proses kewarganegaraan Rusia, hingga tunjangan sosial. Namun, dalam banyak kasus, calon pekerja tidak memahami secara pasti lokasi dan risiko tugas yang akan mereka hadapi di lapangan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Informasi mengenai indikasi penipuan lowongan kerja ini juga diungkapkan oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Berdasarkan laporan otoritas intelijen nasional, perekrutan tersebut diduga dijalankan oleh pihak ketiga dengan menyamarkan lowongan sebagai posisi satuan pengamanan (satpam) atau tenaga administrasi bergaji besar.
Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang menegaskan bahwa pemerintah mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi tenaga kerja, maupun tawaran pekerjaan yang menyesatkan. Kemlu mengingatkan masyarakat agar senantiasa waspada terhadap tawaran kerja di wilayah konflik atau tawaran yang berpotensi melibatkan warga sipil dalam aktivitas militer asing.
Kemlu juga menegaskan bahwa apabila keterlibatan kedelapan WNI tersebut terbukti, tindakan itu murni merupakan keputusan individual dan tidak mencerminkan sikap maupun kebijakan Pemerintah Indonesia.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Tanggapan Kedutaan Besar Rusia
Menanggapi isu ini, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov menyatakan bahwa seluruh kantor perwakilan Rusia di Indonesia sama sekali tidak pernah menyelenggarakan rekrutmen untuk angkatan bersenjata Rusia.
Meski demikian, Tolchenov mengakui adanya kemungkinan warga negara asing yang sedang berada di Rusia鈥攂aik pekerja, pelajar, maupun wisatawan鈥攎emutuskan bergabung dengan militer atas inisiatif dan tanggung jawab pribadi masing-masing. Pihak Kedutaan Besar Rusia menyatakan kesiapannya untuk berkoordinasi dan memberikan penjelasan kepada Kemlu RI terkait proses penelusuran yang sedang berjalan.






