Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) memutuskan tidak memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menyusul sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Kegiatan belajar mengajar di seluruh satuan pendidikan wilayah Tangsel dipastikan tetap berjalan secara normal.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menyatakan bahwa aktivitas pembelajaran di sekolah saat ini masih berlangsung seperti biasa sembari menunggu laporan resmi dan data rinci mengenai kondisi abu vulkanik tersebut. Pemkot Tangsel juga mengagendakan evaluasi menyeluruh terkait kebijakan operasional sekolah pada Minggu, 6 September 2026 malam.
Untuk meminimalkan potensi dampak paparan debu, tenaga pengajar, peserta didik, hingga seluruh civitas akademika di Tangerang Selatan diimbau untuk mengenakan masker saat beraktivitas di area sekolah.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Perbedaan Kebijakan dengan Pemprov DKI Jakarta
Kebijakan yang diambil Pemkot Tangsel berbeda dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan pelaksanaan PJJ untuk seluruh jenjang sekolah mulai Senin, 7 September 2026, sebagai bentuk antisipasi meluasnya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nahdiana mengungkapkan bahwa penerapan PJJ dilakukan agar anak-anak dapat terus mengikuti kegiatan belajar dalam suasana yang aman dan nyaman dari rumah. Pihaknya juga meminta para orang tua untuk tidak panik karena proses belajar mengajar tetap berlangsung terstruktur.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Pantauan BMKG Terkait Sebaran Abu Vulkanik
Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terdeteksi menjangkau kawasan Lampung hingga sebagian wilayah Jakarta.
Merujuk pada data gabungan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), VAAC Darwin, serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, BMKG mengidentifikasi adanya dua klaster pergerakan abu vulkanik. Klaster pertama bergerak dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur laut hingga selatan, meliputi sebagian area DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan di sekitarnya.






