Pertemuan Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Sabtu (5/9/2026), menjadi panggung pembahasan arah transformasi sistem pendidikan Islam. Forum ini dihadiri oleh Ace Hasan Syadzily serta Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, yang menguraikan gagasan mereka seputar relevansi model pembelajaran pesantren dalam menghadapi disrupsi zaman.
Ace Hasan Syadzily menegaskan bahwa tolok ukur pendidikan masa depan tidak boleh lagi bertumpu semata pada capaian akademik. Pembelajaran ideal dituntut mampu membentuk manusia secara utuh, mencakup kematangan spiritual, kekuatan karakter, keterampilan teknis, serta kepekaan tanggung jawab sosial.
Dalam paparannya, Ace mendefinisikan pesantren sebagai sekolah kehidupan. Institusi ini dinilai memiliki keunggulan karena nilai-nilai moral tidak sebatas dipelajari secara teoretis, melainkan dipraktikkan langsung melalui kebiasaan sehari-hari. Kendati memegang kuat akar tradisi, ia mengingatkan bahwa modernisasi tetap menjadi keharusan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Pesantren dinilai perlu membuka diri terhadap riset, teknologi mutakhir, kecerdasan buatan (AI), inovasi, hingga kolaborasi internasional. Bagi Ace, keterbukaan terhadap lompatan teknologi tersebut harus diimbangi dengan komitmen menjaga identitas mendasar pesantren agar tidak tergerus.
Pendekatan Praktis dan Kritik terhadap Pola Hafalan
Dari sudut pandang berbeda, Jusuf Kalla menyoroti perlunya perombakan metode instruksional dan penguatan fasilitas pembelajaran. Menurut JK, pendidikan holistik menuntut integrasi tiga pilar utama: head (otak atau kecerdasan berpikir), heart (hati dan akhlak), serta hand (keterampilan tangan untuk bekerja).
JK menilai kebiasaan menghafal materi pelajaran sudah kehilangan relevansinya di tengah kemudahan akses data saat ini. Keberadaan ponsel pintar dan alat bantu AI memungkinkan informasi diperoleh secara instan, sehingga fokus pembelajaran seharusnya bergeser ke ranah pemahaman konsep dan keterampilan aplikatif.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Perubahan orientasi tersebut juga membutuhkan pergeseran peran tenaga pengajar. JK menyatakan bahwa dalam ekosistem holistik, guru maupun dosen tidak lagi sekadar menjadi penceramah satu arah, melainkan bertindak sebagai fasilitator yang mendorong santri atau mahasiswa berani berdiskusi dan berdebat secara kritis.
Ia turut menyoroti keterbatasan infrastruktur seperti ketiadaan laboratorium, ruang kerja, dan sarana praktik sebagai kendala pembentukan kompetensi kerja. Ketimpangan antara porsi pengetahuan teori dan keterampilan terapan inilah yang dinilai membuat banyak lulusan perguruan tinggi membutuhkan waktu cukup panjang untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.






