Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa kekuasaan dalam sistem demokrasi memiliki batasan waktu dan sepenuhnya merupakan amanah dari rakyat. Pesan tersebut disampaikan AHY saat berpidato dalam peringatan 25 Tahun Partai Demokrat di Kantor DPP Partai Demokrat, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).
AHY mengingatkan perjalanan partainya yang telah melewati berbagai dinamika politik di Tanah Air. Partai Demokrat tercatat pernah menjadi bagian dari kepemimpinan pemerintahan maupun mengambil peran di luar pemerintahan, merasakan kemenangan sekaligus kekalahan.
Refleksi Transisi Kekuasaan dan Hak Rakyat dalam Pemilu
Dalam pidatonya, AHY menyoroti kepemimpinan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama 10 tahun atau dua periode. Menurutnya, proses pergantian kepemimpinan kala itu menjadi pelajaran penting karena berlangsung secara damai dan demokratis setelah masa jabatan selesai.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

"Kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya. Kekuasaan adalah amanah rakyat yang memiliki batas waktu," tutur AHY di hadapan jajaran kader partai.
AHY juga menggarisbawahi esensi dari penyelenggaraan pemilihan umum. Ia menyatakan hakikat pemilu berakar pada kehendak publik, sehingga hak masyarakat untuk memilih maupun dipilih tidak boleh dihambat oleh pihak mana pun.
Penegakan Hukum Tanpa Perlakuan Istimewa
Selain menyinggung etika kekuasaan, AHY memberikan instruksi khusus kepada seluruh kader Demokrat terkait kepatuhan hukum. Ia meminta kader tidak sekali-kali menuntut perlakuan istimewa ketika berhadapan dengan proses hukum, mengingat seluruh warga negara memiliki kedudukan yang setara di mata hukum.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Menurut AHY, penerapan hukum tidak boleh bergeser atau berkompromi karena pengaruh nama besar, jabatan politik, kepemilikan kekayaan, ataupun relasi kuasa. Kader Demokrat diinstruksikan untuk memegang teguh prinsip keadilan secara objektif.
"Kita tidak boleh membela yang salah hanya karena ia kawan, dan jangan menyerang yang benar hanya karena ia lawan," tegas AHY menutup arahannya.






