Direktur Utama PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa) Leo Yulianto Sutedja mengingatkan bahwa lonjakan adopsi kecerdasan buatan (AI) dan ekspansi pusat data mulai mengubah peta persaingan kawasan industri di Indonesia. Ketersediaan lahan luas serta lokasi strategis dinilai tidak lagi memadai untuk memikat investor sektor digital.
Industri berbasis teknologi membutuhkan tingkat keandalan fasilitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan sektor manufaktur konvensional. Investor kini menuntut kepastian pasokan listrik tanpa gangguan, konektivitas internet berkapasitas besar, hingga ketersediaan ekosistem AI. Pasalnya, instabilitas daya maupun gangguan jaringan internet dapat langsung menghentikan operasional bisnis secara fatal.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kondisi tersebut menggeser posisi infrastruktur dari sekadar utilitas pendukung menjadi faktor penentu utama daya saing kawasan industri. Fasilitas mendasar seperti kelistrikan (power), pasokan air bersih, dan jaringan serat optik netral (neutral fiber) dituntut telah terintegrasi sejak awal agar investor tidak perlu membangun sarana dasar secara mandiri dari nol.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Leo menyoroti bahwa tantangan terbesar dalam ekosistem AI dan pusat data bukan semata-mata menghitung besaran daya listrik yang tersedia. Masalah krusial yang dihadapi pengelola kawasan industri adalah memastikan kapasitas daya tersebut mampu disalurkan secara stabil, andal, dan dapat diekspansi secara fleksibel mengikuti laju pertumbuhan operasional penyewa.






