Arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, terus menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan. Dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia yang dipandu oleh Shania Alatas pada Rabu (26/08/2026), Chief Executive Officer Sucor Sekuritas, Bernadus Widjaya, memaparkan keterkaitan antara dinamika suku bunga acuan global dengan kebijakan moneter domestik serta dampaknya terhadap pilihan sektor saham.
Kebijakan suku bunga The Fed sangat dipengaruhi oleh perkembangan rilis data inflasi AS. Penurunan laju inflasi hingga mencapai target yang ditetapkan The Fed membuka potensi keputusan terhadap arah suku bunga acuan. Sementara itu, bagi Bank Indonesia, potensi penurunan BI Rate memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan aliran dana asing, posisi nilai tukar Rupiah, serta kepastian langkah kebijakan The Fed.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Peluang Sektor Perbankan, Komoditas, dan Teknologi AI
Di tengah perkembangan kebijakan moneter tersebut, sektor perbankan dinilai sebagai salah satu sektor yang berpotensi kembali menguat. Bernadus menyebutkan bahwa valuasi saham perbankan saat ini tergolong sangat murah, termasuk untuk saham perbankan berkapitalisasi pasar besar (big caps). Rata-rata Price to Earnings (PE) ratio sektor perbankan berada di bawah 10 kali, disertai potensi dividend yield yang mencapai lebih dari 10%, sehingga menjadikannya cukup menarik bagi pelaku pasar.
Selain sektor finansial, sektor komoditas turut memiliki peluang pertumbuhan. Tren kenaikan harga minyak mentah ikut mengerek harga sejumlah komoditas lainnya, termasuk batu bara dan tembaga, yang memberikan katalis positif bagi kinerja sektor terkait.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Di samping itu, sektor yang berhubungan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga dinilai memiliki peluang. Potensi tersebut didorong oleh tren saham sektor AI yang terus mencatatkan pertumbuhan di berbagai bursa negara maju seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.






