Sejumlah analis pasar modal menilai fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sebulan terakhir terjadi akibat kombinasi sentimen harga komoditas global, ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed, serta aksi rotasi sektor yang cepat oleh para pelaku pasar, kendati aliran dana asing mulai kembali masuk ke bursa domestik.
Analis MNC Sekuritas Herditya menjelaskan bahwa pergerakan indeks sangat dipengaruhi oleh volatilitas harga komoditas seperti minyak mentah dan emas yang berdampak langsung pada emiten-emiten terkait. Kenaikan harga soft commodity juga diproyeksikan memberi tekanan terhadap emiten di sektor konsumer. Selain itu, investor masih mencermati langkah bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, terkait potensi sikap hawkish atau pelonggaran suku bunga di tengah lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu inflasi global.
Kondisi pasar yang masih bergerak dinamis ini juga dinilai sebagai fase wajar oleh Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova. Fluktuasi jangka pendek merupakan bagian dari pemulihan awal pasca koreksi pasar yang terjadi sejak pertengahan April hingga awal Juni 2026. Menurut Ivan, aksi akumulasi saham oleh pelaku pasar saat ini masih dibayangi oleh aksi ambil untung (profit taking) dari kalangan trader yang belum sepenuhnya meyakini terbentuknya tren penguatan yang kokoh.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Faktor Geopolitik dan Pola Historis September
Dari sisi historis dan makroekonomi, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus memaparkan bahwa bursa saham Indonesia masih menghadapi tekanan. Berdasarkan data 10 tahun terakhir, IHSG tercatat memiliki probabilitas koreksi sebesar 60% pada bulan September dengan rata-rata penurunan sebesar -0,76%.
Maximilianus mencatat sejumlah faktor penekan ruang gerak IHSG, antara lain konflik AS dan Iran yang berlanjut, kenaikan harga minyak, lonjakan inflasi AS, potensi kenaikan suku bunga The Fed dan bank sentral global, penyusutan nilai investasi dan kredit, hingga proyeksi perlambatan ekonomi. Meski demikian, secara teknikal IHSG diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang 6.640 hingga 6.730 tanpa menembus level support utamanya.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Sementara itu, Analis Mata Uang DOO Financial Futures Lukman Leong menambahkan bahwa masuknya kembali arus modal asing sebenarnya memberikan sentimen positif bagi pasar saham bulan ini. Namun, tingginya volatilitas tetap bertahan karena investor merespons sentimen pasar secara cepat melalui rotasi sektor.
Lukman mengingatkan para pelaku pasar untuk terus memantau beberapa variabel kunci ke depan, termasuk ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan yield US Treasury, penguatan dolar AS, dinamika geopolitik dan komoditas, serta sentimen domestik seperti kebijakan fiskal pemerintah, stabilitas nilai tukar rupiah, dan kinerja keuangan emiten.






