Kawasan Bukit Ali al-Taher di Lebanon Selatan diguncang ledakan dahsyat menyusul serangan udara besar-besaran yang dilancarkan militer Israel ke kompleks militer bawah tanah milik Hizbullah. Gelombang ledakan berkekuatan masif tersebut memicu getaran seismik yang tercatat menyerupai gempa bumi di kawasan Arab tersebut.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa mereka telah menghancurkan jaringan terowongan strategis sepanjang lebih dari dua kilometer di bawah bukit tersebut pada 10 September. Kompleks bawah tanah yang menjadi target serangan merupakan basis milik Unit Badr Hizbullah. IDF menyebut area tersebut dirancang sebagai fasilitas komando, penampungan pasukan dalam jangka panjang, serta gudang penyimpanan aneka persenjataan termasuk roket, rudal, drone, dan bahan peledak.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Operasi penghancuran benteng pertahanan tersebut dilaporkan menggunakan lebih dari 1.100 ton bahan peledak. Skala ledakan yang luar biasa besar memicu aktivitas seismik dengan kekuatan magnitudo 4,1. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) turut mendeteksi getaran dari peristiwa tersebut hingga kedalaman sekitar 10 kilometer.
Jaringan benteng bawah tanah Hizbullah sendiri telah dibangun selama lebih dari dua dekade sebagai pilar pertahanan asimetris untuk menghadapi pasukan Israel di wilayah Lebanon Selatan. Militer Israel menyatakan pengeboman skala besar lewat udara menjadi pilihan taktis untuk meruntuhkan benteng pertahanan tersebut sekaligus menekan risiko jatuhnya korban personel dalam pertempuran darat langsung.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Meski sasaran operasi militer dinyatakan lumpuh, gempuran dengan daya ledak tinggi ini menuai sorotan dan kritik. Pengeboman masif di bawah tanah dinilai menimbulkan risiko kerusakan struktural serta ancaman dampak lingkungan yang meluas di wilayah sekitarnya.






