Peringatan satu dekade hubungan bilateral antara Indonesia dan Provinsi Jiangxi, Tiongkok, menjadi momentum untuk mengubah arah kemitraan ekonomi. Anggota DPR RI Bambang Soesatyo mendorong agar relasi kedua pihak tidak lagi bertumpu pada sekadar jejaring bisnis atau transaksi dagang biasa, melainkan naik kelas menuju penanaman investasi riil dan pembentukan basis produksi di dalam negeri.
Langkah transformasi ini dinilai mendesak jika melihat struktur neraca perdagangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok berada di kisaran US$ 67,04 miliar pada 2025, sementara impor dari negara tersebut mencapai US$ 87,54 miliar. Ketimpangan arus barang ini memicu defisit perdagangan sekitar US$ 20,50 miliar bagi Indonesia.
Untuk memangkas celah defisit tersebut, paradigma hubungan ekonomi dinilai perlu diubah secara mendasar. Bamsoet menekankan bahwa orientasi kerja sama harus bergeser dari pola penjualan produk Tiongkok ke Indonesia menjadi produksi bersama di Tanah Air. Dengan demikian, Indonesia diposisikan sebagai basis produksi strategis dan bukan sekadar pasar konsumsi produk impor.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Ruang lingkup kolaborasi Indonesia dan Tiongkok saat ini telah meluas ke berbagai sektor strategis, meliputi infrastruktur, teknologi, ekonomi digital, hingga ekosistem kendaraan listrik. Di sektor mobilitas masa depan, Indonesia memiliki posisi kunci dalam rantai pasok nikel global, sementara Jiangxi menguasai keunggulan manufaktur untuk perakitan komponen kendaraan listrik. Sinergi ini dinilai potensial untuk diintegrasikan ke dalam skema industri manufaktur terpadu.
Dalam pelaksanaannya, peta jalan kerja sama ke depan diproyeksikan mencakup pendirian pabrik, pembentukan usaha patungan (joint venture), pemanfaatan rantai pasok lokal (local sourcing), penguatan riset dan pengembangan (R&D), serta orientasi ekspor kembali ke pasar ASEAN. Seluruh kegiatan investasi juga diarahkan untuk memenuhi standar ekonomi hijau dengan pemanfaatan energi terbarukan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Pemasukan modal dari Jiangxi diharapkan mampu memberi dampak nyata bagi perekonomian domestik melalui penciptaan lapangan kerja, alih teknologi, pembinaan tenaga kerja lokal, dan perlindungan lingkungan berdasarkan prinsip kepastian hukum, nilai tambah lokal, serta kemakmuran bersama.






