Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa gagasan dan keteladanan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), tetap relevan menghadapi tantangan zaman saat ini. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam forum bedah buku Penyirep Gemuruh yang berlangsung di Masjid Gedang PPBU Tambakeras, Jombang, pada Sabtu (29/8/2026).
Acara diskusi naskah klasik ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menyemarakkan Muktamar ke-35 NU. Selain Sarmuji, forum menghadirkan pegiat sejarah dari Komunitas Pegon Banyuwangi Ayung Notonegoro serta penerjemah sekaligus penulis kitab Penyirep Gemuruh, Fathul H Panatapraja.
Sarmuji menggarisbawahi keistimewaan Mbah Wahab dalam mengelola silang pendapat saat menyelesaikan polemik perluasan Masjid Peneleh di Surabaya. Menurutnya, pendekatan yang digunakan tokoh bangsa tersebut merefleksikan nilai-nilai dasar NU, meliputi tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (keadilan).
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

"Mbah Wahab menunjukkan kemampuan luar biasa dalam merangkul banyak pihak. Beliau tidak hanya berpijak pada pertimbangan ahli fikih semata, tetapi juga membuka ruang bagi pandangan orang-orang yang memiliki keahlian teknis tertentu guna mencapai jalan keluar bersama," jelas Sarmuji dalam paparan materinya.
Rekam Jejak Manuskrip Kuno di Pesantren Lateng
Naskah Penyirep Gemuruh sendiri mendokumentasikan dinamika penyelesaian ketegangan seputar rencana perluasan Masjid Peneleh Surabaya, tempat ibadah bersejarah yang memiliki pertalian dengan era Sunan Ampel. Penyelesaian perkara tersebut disandarkan pada argumentasi hukum Islam serta kepekaan sosial kemasyarakatan.
Keberadaan teks berharga ini kembali terangkat berkat penelusuran sejarah. Ayung Notonegoro menceritakan bahwa dirinya menemukan fisik manuskrip tersebut sekitar rentang tahun 2016 hingga 2018 ketika menjalankan mandat riset sejarah dari PCNU Banyuwangi.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Saat melakukan penelusuran di Pesantren Lateng, Banyuwangi, Ayung menemukan dua lemari tua milik Kiai Saleh. Lemari yang menyimpan tumpukan kitab lawas itu diketahui telah terkunci rapat selama belasan tahun tanpa pernah dibuka.
Sebelumnya, dokumen dengan teks serupa sempat tersimpan di kantor PCNU Surabaya di kawasan Jalan Bubutan tanpa banyak mendapat sorotan publik. Komunitas Pegon kemudian mengambil inisiatif melakukan translasi dan memublikasikan karya tersebut secara luas agar khazanah pemikiran Mbah Wahab dapat dipelajari generasi saat ini.






