PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) mulai mempertimbangkan opsi untuk menarik pencatatan saham anak usahanya, PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT), dari papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah delisting ini mencuat ke permukaan setelah entitas distribusi tersebut belum kunjung memenuhi batas minimum porsi saham publik yang disyaratkan regulator.
Sebelumnya, EPMT tetap mempertahankan statusnya sebagai perusahaan terbuka di sektor distribusi dan logistik kesehatan. Namun, tekanan kepatuhan regulasi kini menuntut keputusan strategis baru mengingat porsi kepemilikan publik perseroan masih terpaut jauh dari standar bursa.
Ketimpangan Porsi Free Float Saham
Berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia, setiap emiten tercatat diwajibkan memiliki porsi saham beredar di publik (free float) sekurang-kurangnya 15%. Posisi EPMT saat ini baru mencatatkan free float sebesar 7,5%, atau baru separuh dari ambang batas minimal yang ditetapkan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Menghadapi selisih tersebut, manajemen Kalbe Farma menilai penambahan porsi saham publik bukan perkara mudah. Opsi penghapusan pencatatan saham secara sukarela pun mulai dijajaki apabila upaya mendongkrak kepemilikan publik menemui hambatan teknis maupun pasar.
Kalbe Farma menegaskan komitmennya untuk tetap mematuhi seluruh aturan yang berlaku di pasar modal domestik. Perseroan menyatakan akan mengambil langkah yang selaras dengan regulasi BEI, baik melalui skema pemenuhan ketentuan free float maupun eksekusi delisting.
Respons Pasar dan Kinerja Saham
Dalam proses penjajakan ini, induk usaha menyatakan tetap terbuka menerima masukan dari para pelaku pasar serta pemegang saham mengenai alternatif skenario dan linimasa penyelesaian yang paling optimal.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Kabar mengenai peluang delisting tersebut langsung direspons oleh pergerakan harga saham di pasar reguler. Pada perdagangan hari pengumuman pukul 13.39 WIB, harga saham EPMT terkoreksi 3,54% ke level Rp 2.450 per saham.
EPMT sendiri menjalankan lini usaha utama di bidang distribusi, logistik, dan perdagangan produk-produk kesehatan. Emiten farmasi dan rantai pasok ini memiliki nilai kapitalisasi pasar yang tercatat mencapai Rp 6,6 triliun di Bursa Efek Indonesia.






