Kisah perkembangan industri transportasi udara di Indonesia menyimpan berbagai catatan perjalanan para perintisnya. Salah satu perjalanan bisnis yang menjadi sorotan adalah keberhasilan Rusdi Kirana dalam mendirikan dan membesarkan kerajaan maskapai penerbangan di tanah air. Ide awal untuk menghadirkan layanan penerbangan dengan tarif yang terjangkau bagi masyarakat luas muncul ketika Rusdi Kirana masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Pancasila. Pada saat yang bersamaan, ia juga menjalani pekerjaan sampingan sebagai calo tiket di Bandara Soekarno-Hatta. Pengalaman langsung tersebut menjadi awal mula terbentuknya gagasan besar mengenai penyediaan akses perjalanan udara berbiaya hemat.
Melanjutkan pengalaman di sektor penjualan tiket, Rusdi Kirana kemudian mengambil langkah lebih terstruktur bersama saudaranya, Kusnan Kirana. Pada era 1990-an, kakak-beradik ini resmi mendirikan sebuah biro perjalanan yang diberi nama Lion Tour. Pendirian biro perjalanan Lion Tour ini menjadi pijakan penting dalam menjajaki dinamika kebutuhan transportasi para penumpang. Setelah mengelola bisnis biro perjalanan tersebut, langkah untuk mendirikan maskapai sendiri mulai dipersiapkan secara bertahap hingga perizinan resmi penerbangan berhasil didapatkan.
Izin operasional bagi maskapai Lion Air akhirnya resmi keluar pada tahun 1999 dengan bermodalkan dua unit pesawat sewaan. Meskipun izin telah diterbitkan pada 1999, maskapai Lion Air baru secara resmi memulai kegiatan operasional penerbangan komersialnya kepada publik pada tanggal 30 Juni 2000. Kemunculan Lion Air di industri penerbangan domestik langsung menarik perhatian berkat penawaran harga tiket yang jauh lebih rendah dibandingkan harga yang ditawarkan oleh para kompetitor di pasar pada saat itu.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Perbedaan tarif tersebut terlihat sangat nyata pada sejumlah rute awal yang diterbangkan oleh Lion Air. Pada rute perdana yang menghubungkan Jakarta dan Pontianak, Lion Air mematok harga tiket sebesar Rp 300 ribu. Tarif ini berada jauh di bawah harga maskapai kompetitor yang menetapkan harga hingga mencapai Rp 1,1 juta. Gebrakan penurunan harga tiket tersebut berlanjut pada rute penerbangan Jakarta menuju Manado. Untuk rute Jakarta-Manado, Lion Air menawarkan harga tiket sebesar Rp 400 ribu, padahal harga umum yang biasanya dipatok oleh kompetitor mencapai angka Rp 2,1 juta.
Strategi harga terjangkau tersebut mendorong pertumbuhan operasional yang sangat pesat. Pada tahun 2004, Lion Air tercatat telah mengoperasikan sebanyak 23 armada pesawat terbang. Setiap harinya, maskapai ini melayani hingga 130 penerbangan yang menghubungkan jaringan rute di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Skala bisnis maskapai ini pun kian meluas dengan pembentukan grup usaha yang menaungi sejumlah maskapai lain, seperti Wings Air, Batik Air, Lion Bizjet, serta ekspansi regional lewat Malindo Air di Malaysia dan Thai Lion Air di Thailand.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Pencapaian operasional grup penerbangan ini terus meningkat dalam melayani mobilitas masyarakat luas. Pada tahun 2018, Lion Air tercatat berhasil mengangkut sebanyak 36,8 juta penumpang, yang setara dengan persentase 35 persen dari total pangsa pasar penumpang yang bepergian antarpulau maupun antarkota di Indonesia. Dinamika di sektor penerbangan komersial juga ditandai dengan hadirnya penerbangan perdana dari Super Air Jet pada tanggal 6 Agustus 2021 yang melayani rute Jakarta menuju Kualanamu serta Jakarta menuju Batam.
Keberhasilan membangun dan mengelola jaringan maskapai penerbangan ini turut menempatkan Rusdi Kirana dalam jajaran tokoh bisnis terkemuka di tanah air. Majalah Forbes mencatat Rusdi Kirana berada di peringkat ke-33 dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia pada tahun 2017 dengan total kekayaan mencapai US$ 970 juta. Sementara itu, pada pemeringkatan tahun 2022 oleh Forbes, posisi Rusdi Kirana berada di urutan ke-38 orang terkaya di Indonesia dengan taksiran nilai kekayaan sebesar US$ 835 juta.






