Panggung kontes Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand, berbuntut panjang bagi anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna. Kehadirannya dalam acara pemilihan kontes transgender tersebut memicu sorotan hingga berujung pada agenda pemanggilan oleh Badan Kehormatan (BK) DPD RI.
Ketua Badan Kehormatan DPD RI Hasby Yusuf mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Arya Wedakarna. Pemanggilan tersebut rencananya digelar pada Kamis atau Jumat pekan depan menyusul perhatian publik terhadap keberadaan sang senator di ajang internasional itu.
Poin-Poin Klarifikasi yang Bakal Didalami BK DPD
Dalam proses klarifikasi mendatang, BK DPD RI memfokuskan penelusuran pada sejumlah temuan dan pernyataan sang senator. Hasby mengungkapkan, pihaknya ingin mendalami klaim Arya yang mengaku tidak mengetahui tema transgender yang diusung oleh kontes tersebut.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Selain soal pemahaman acara, status kehadiran Arya menjadi perhatian utama. Arya berdalih hadir atas nama pribadi serta dalam kapasitasnya sebagai Presiden Hindu Center of Indonesia, bukan mewakili lembaga DPD RI. Namun, BK DPD menyoroti adanya pengawalan berseragam aparat keamanan dan penyebutan identitas 'Senator Indonesia' selama acara berlangsung di Bangkok.
Hasby menegaskan klarifikasi diperlukan untuk memastikan apakah ada pelanggaran etika institusi di balik penggunaan atribut kedinasan dan fasilitas pengawalan tersebut.
Penjelasan dan Duduk Perkara Versi Arya Wedakarna
Arya Wedakarna sebelumnya telah memberikan klarifikasi mengenai kronologi keterlibatannya. Ia menceritakan bahwa komunikasi bermula pada Juni 2026 ketika ia menerima perwakilan panitia penyelenggara, MS Organization, di kediamannya di Jembrana, Bali. Pertemuan itu berlangsung dalam kapasitasnya sebagai tokoh budaya Hindu.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Menurut Arya, organisasi tersebut memiliki jejaring di 15 negara dan kerap mengadakan berbagai aksi sosial serta kegiatan amal di Pulau Dewata. Pada puncak acara yang digelar 30 Agustus 2026 di Bangkok, Arya hadir untuk menyerahkan penghargaan kepada lima tokoh.
Arya menegaskan dirinya mengenakan pakaian adat Bali dan mengaku tidak menanyakan secara rinci latar belakang gender para peserta karena merasa hal itu tidak etis untuk ditanyakan. Terkait keberadaan personel berseragam TNI yang mendampinginya, ia menjelaskan bahwa figur tersebut merupakan ajudan yang bertugas melekat untuk pengamanan pribadi.






