Suara dentuman misterius yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari memicu tanda tanya publik. Menanggapi keresahan warga, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi suara keras tanpa sumber visual jelas tersebut sebagai indikasi fenomena skyquake atau dentuman langit.
Kecurigaan awal masyarakat sempat mengarah pada pergerakan sesar aktif maupun gangguan cuaca ekstrem di sekitar Jawa Barat. Namun, hasil analisis instrumen geofisika menunjukkan anomali yang berlawanan: kondisi lingkungan di Bandung Raya justru terpantau tenang saat suara tersebut mengguncang keheningan malam.
Hasil Pemeriksaan Seismik dan Cuaca Lokal
Untuk melacak pemicu suara, BMKG memeriksa data rekaman kegempaan, sebaran petir, kondisi atmosfer, hingga variasi magnet bumi. Hasil pemantauan seismograf memastikan tidak ada aktivitas gempa bumi yang signifikan di wilayah Bandung Raya pada rentang waktu kejadian.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Sensor BMKG juga tidak mendeteksi pergerakan yang berkembang pada jalur Sesar Lembang pada jam-jam yang dicurigai. Di sisi meteorologi, pantauan citra satelit Himawari memperlihatkan tidak adanya kumpulan awan konvektif tebal, sejalan dengan kondisi cuaca Bandung Raya dan Jawa Barat yang secara umum terpantau cerah dengan aktivitas petir lokal yang sangat minim.
Kontras dengan Aktivitas Vulkanik Krakatau
Pada waktu yang bersamaan dengan laporan dentuman di Bandung, BMKG mencatat adanya aktivitas vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau yang disertai konsentrasi badai petir (thunderstorm) sangat dominan. Kendati demikian, dentuman tersebut dinilai janggal jika bersumber langsung dari erupsi vulkanik Selat Sunda.
Warga di wilayah Banten, Jakarta, hingga Bogor tidak melaporkan mendengar dentuman serupa pada waktu bersamaan. Padahal, posisi geografis wilayah-wilayah tersebut jauh lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau dibandingkan Bandung Raya. Peristiwa dentuman atmosfer semacam ini sebelumnya juga pernah dilaporkan terjadi di kawasan Bogor pada April 2020.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Hipotesis Pelepasan Gas Metana Danau Purba
Mengingat nihilnya korelasi dengan aktivitas seismik darat maupun cuaca lokal, BMKG merujuk pada literatur ilmiah terkait fenomena skyquake. Salah satu penjelasan teoritis menyebutkan bahwa dentuman langit dapat dipicu oleh dinamika pelepasan gas metana dari bawah permukaan tanah.
Secara geologis, kawasan Kota Bandung dan sekitarnya berdiri di atas endapan cekungan Danau Purba (Danau Bandung). Aktivitas gas alam yang terperangkap di lapisan sedimen purba tersebut berpotensi memicu resonansi suara di lapisan udara saat terlepas, meski pembuktian pastinya masih memerlukan kajian ilmiah lanjutan.






