Operasi penerbangan dan aktivitas warga di wilayah Jabodetabek hingga Banten diupayakan tetap terlindungi dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan terus berjalan sampai sebaran abu tersebut tidak lagi menjadi ancaman bagi bandar udara maupun keselamatan masyarakat.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menyampaikan bahwa misi modifikasi cuaca tersebut telah dimulai sejak Senin (7/9/2026). Operasi mitigasi sebaran abu vulkanik ini dirancang melalui dua posko utama, yakni Pangkalan Udara TNI AD (Lanumad) Ahmad Yani di Semarang dan Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan.
Pada tahap awal operasi, pesawat penyemai baru diberangkatkan dari posko Lanumad Ahmad Yani Semarang. Posko Bandara Pondok Cabe saat itu masih berada dalam status siaga (standby) menyusul terbitnya Notice to Airmen (NOTAM) yang menutup operasional landasan bandara setempat.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Kendati sempat ditutup, hasil pengujian sampel permukaan (paper test) terhadap keberadaan abu vulkanik menunjukkan hasil negatif di Bandara Pondok Cabe, Bandara Soekarno-Hatta, dan Bandara Halim Perdanakusuma. Begitu NOTAM Bandara Pondok Cabe resmi dibuka kembali, posko tersebut langsung difungsikan untuk menjangkau target operasi di Jawa bagian barat, khususnya Banten dan Jabodetabek.
Penyesuaian Wilayah Prioritas dan Jalur Penerbangan
Kawasan Jabodetabek dan Jawa Barat bagian barat menjadi fokus utama penyemaian awan guna menekan pergerakan partikel debu vulkanik di udara padat lalu lintas. Berdasarkan analisis sebaran abu pada Senin pagi, intervensi cuaca diarahkan pada area di sebelah timur zona merah. Langkah ini diambil untuk memastikan pesawat modifikasi tidak menerobos koridor berbahaya yang pekat partikel abu.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Pergerakan angin pada Senin sore terpantau menggeser konsentrasi abu vulkanik ke arah barat. Perubahan dinamika atmosfer ini berpotensi memperluas radius kerja OMC hingga ke wilayah Lampung, menyesuaikan perkembangan ruang udara dan keselamatan operasional armada.






