Pembentukan Holding Pharmacy Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak tahun 2020 sempat dihadapkan pada situasi krisis kesehatan global. Sepanjang periode 2020 hingga 2022, PT Bio Farma (Persero) mengerahkan sebagian besar sumber daya operasionalnya untuk merespons pandemi COVID-19 dan memastikan ketersediaan vaksin bagi masyarakat.
Memasuki tahun 2023, perseroan mulai mengalihkan fokus secara penuh untuk menata kembali struktur organisasi internal. Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menjelaskan bahwa langkah pembenahan fundamental korporasi ini menjadi pondasi penting, terutama saat perusahaan beralih pengawasan dari Kementerian BUMN ke Badan Pengelola Investasi Danantara.
Reorientasi Model Bisnis
Untuk memperkuat fundamental jangka panjang, Bio Farma menetapkan dua pilar utama dalam agenda reorientasi bisnis. Pertama, meningkatkan efektivitas serta efisiensi pada seluruh lini operasional yang sedang berjalan. Kedua, merancang model bisnis baru yang lebih adaptif agar mampu menghasilkan arus kas berkelanjutan bagi korporasi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Langkah reorientasi ini dirancang agar portofolio produk dan layanan farmasi milik holding memiliki daya saing yang lebih sehat pascapandemi, sehingga tidak bergantung semata pada pengadaan darurat.
Restrukturisasi Keuangan dan Modal Kerja
Selain membenahi operasional bisnis, pemulihan kinerja Bio Farma ditopang oleh serangkaian restrukturisasi finansial. Perseroan secara aktif menjalin negosiasi dengan pihak kreditor guna menyepakati skema penataan ulang kewajiban.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Manajemen juga mengupayakan penguatan struktur permodalan melalui injeksi modal (capital injection) dan pinjaman pemegang saham (shareholder loan). Di sisi likuiditas harian, perbaikan modal kerja didorong lewat pemanfaatan skema pendanaan rantai pasok (supply chain financing) dan pendanaan proyek (project financing).
Di panggung internasional, Bio Farma tetap mengandalkan penetrasi pasar vaksin global. Penyaluran produk ke berbagai negara tujuan ekspor terus berjalan melalui kemitraan bilateral, di samping kerja sama institusional dengan lembaga multilateral seperti UNICEF, Pan American Health Organization (PAHO), serta Global Alliance for Vaccines and Immunization (Gavi).






