Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan bahwa ketidakpastian ekonomi global masih membayangi meski tekanan pasar energi saat ini relatif terkendali. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan bahwa ketahanan ekonomi dunia dalam menghadapi disrupsi energi berjalan lebih baik dari perkiraan awal, terutama setelah eskalasi penutupan Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan Georgieva dalam konferensi pers menjelang pertemuan para menteri keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, pada 25 Agustus 2026. Menurutnya, stabilitas sementara ini terlihat dari pergerakan harga minyak mentah acuan Brent yang bertahan di rentang US$80 hingga US$90 per barel sejak pertengahan Juni. Angka ini turun cukup signifikan dibandingkan lonjakan pada musim semi lalu yang sempat menembus US$118 per barel.
Kendati tekanan komoditas mereda, sektor finansial global masih menghadapi volatilitas tinggi. Imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Merespons kondisi tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent melipatgandakan nilai pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang demi meredam lonjakan biaya pinjaman.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dorongan Ekspansi Investasi AI
Di tengah risiko energi dan pasar obligasi, akselerasi ekonomi global tertopang oleh gelombang investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Tren ekspansi belanja modal teknologi yang sebelumnya terkonsentrasi di Amerika Serikat kini mulai menyebar luas ke berbagai negara lain.
Di pasar domestik AS, belanja AI terbukti menopang kinerja laba korporasi sekaligus menjaga daya beli konsumen tetap tangguh. Di luar AS, sejumlah negara mulai gencar mengalokasikan modal untuk pembangunan pusat data (data center) serta penguatan rantai pasok perangkat keras pendukung ekosistem digital tersebut.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Penyesuaian Proyeksi Pertumbuhan Dunia
Kendati mendapat angin segar dari sektor teknologi, IMF tetap mempertahankan sikap waspada. Pada Juli lalu, lembaga tersebut telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026 menjadi 3,0%. Penyesuaian ke bawah ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, ancaman fragmentasi perdagangan internasional, dan volatilitas adopsi teknologi AI.
Evaluasi komprehensif mengenai arah pertumbuhan ekonomi dunia selanjutnya akan diumumkan secara resmi pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia yang dijadwalkan berlangsung di Bangkok, Thailand, pada pertengahan Oktober mendatang.






