Pasukan militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Iran di Pulau Larak pada hari Minggu. Operasi ini menargetkan dan menghancurkan dua unit peluncur senjata milik Garda Revolusi Islam (IRGC) di kawasan strategis tersebut.
Serangan ini tercatat sebagai aksi militer langsung pertama yang dilakukan pihak AS terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli lalu. Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa intelijen mendeteksi pasukan IRGC tengah bersiap meluncurkan roket yang dilengkapi ranjau laut ke arah jalur pelayaran Selat Hormuz sesaat sebelum fasilitas tersebut dihantam.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Laporan awal dari kantor berita Tasnim mengindikasikan operasi militer AS tersebut menggunakan serangan pesawat nirawak (drone). Sementara itu, Departemen Hubungan Masyarakat IRGC membenarkan adanya agresi militer di wilayah Provinsi Hormozgan Selatan tersebut dan menyatakan bahwa serangan telah menimbulkan korban tewas serta luka-luka, baik dari kalangan prajurit maupun warga sipil.
Eskalasi di Pulau Larak terjadi di tengah peringatan keras dari Washington. Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan seluruh ranjau laut di perairan internasional Selat Hormuz telah diledakkan dan dibersihkan. Trump menegaskan bahwa setiap kapal atau perahu yang kedapatan menaruh ranjau baru akan langsung dihancurkan.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Ketegangan militer antara kedua kubu bermula dari serangan pembuka oleh AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Rangkaian saling serang tersebut memicu aksi balasan ke instalasi militer serta menyebabkan blokade total di Selat Hormuz鈥攋alur laut vital yang biasanya menampung transit sekitar seperlima konsumsi minyak mentah dunia. Hingga kini, sebanyak 18 personel militer AS terkonfirmasi tewas dalam rangkaian konflik bersenjata tersebut.






