Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1% atau terpangkas 66,50 poin ke posisi 6.611,70 pada perdagangan Kamis (10/9/2026) pukul 14.25 WIB. Pelemahan mendadak ini membawa indeks menyentuh titik terendah harian di 6.608,21, setelah sempat mencatatkan level tertinggi pada 6.712,50.
Koreksi tajam tersebut melanda mayoritas instrumen di bursa. Sebanyak 495 saham melemah, berbanding 172 saham yang menguat dan 296 saham lainnya bergerak stagnan.
Pemicu Pelemahan dan Tekanan Global
Tekanan pada IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal, terutama lonjakan harga komoditas energi serta kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Harga minyak mentah Brent melesat menembus US$101 per barel menyusul eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Pada saat yang sama, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun masih bertahan di level tinggi sekitar 4,86%, yang mendorong pengetatan likuiditas global.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kondisi tersebut memicu aksi jual oleh pemodal non-domestik. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas hingga perdagangan sesi I, investor asing membukukan penjualan bersih (net foreign sell) mencapai Rp1,31 triliun, yang berasal dari total nilai beli Rp2,71 triliun berbanding transaksi jual Rp4,02 triliun.
Arus modal keluar paling deras melanda saham-saham berkapitalisasi besar. Saham BBCA mencatat net foreign sell sebesar Rp276,20 miliar dan terkoreksi 1,15%. Pelemahan berlanjut pada BBRI yang merosot 2,92% dengan net sell asing Rp116,19 miliar, AMMN turun 1,83% dengan net sell asing Rp36,17 miliar, serta BMRI yang mencatat net sell asing Rp17,14 miliar. Saham BYAN turut merosot hingga 3,99%.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Secara sektoral, penurunan terdalam dialami oleh sektor kesehatan yang jatuh 1,51%. Sektor keuangan juga tergerus 0,65%, disusul sektor industri yang melemah 0,27%, dan teknologi yang turun tipis 0,01%.






