PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester I-2026. Bank syariah dengan kode saham BRIS tersebut berhasil membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp4,15 triliun pada paruh pertama tahun 2026. Capaian laba bersih tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 11 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Kinerja positif perseroan didukung oleh pertumbuhan yang konsisten pada perolehan pendapatan berbasis komisi serta ekspansi penyaluran pembiayaan di berbagai segmen bisnis.
Pendorong signifikan perolehan laba BSI berasal dari lonjakan pendapatan berbasis biaya atau fee based income. Pada semester I-2026, fee based income BSI mengalami kenaikan lebih dari 38 persen secara tahunan hingga mencapai lebih dari Rp4 triliun. Kinerja pos pendapatan ini ditopang kuat oleh lini bisnis emas perseroan. Pendapatan dari bisnis emas BSI tercatat melonjak 92 persen secara tahunan, yang terutama didorong oleh produk gadai emas dan tabungan emas, seiring aktivitas perbendaharaan (treasury) yang juga turut menunjukkan pertumbuhan positif.
Secara khusus, portofolio pembiayaan emas BSI mencatatkan ekspansi yang sangat pesat sepanjang paruh pertama tahun 2026. Bisnis pembiayaan emas perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 80,52 persen secara tahunan hingga menyentuh angka Rp30,4 triliun. Kinerja pembiayaan emas ini dibarengi dengan tingkat imbal hasil atau return yield yang mencapai sekitar 12,4 persen. Selain itu, kualitas pembiayaan emas tetap terjaga dengan sangat baik dan sehat, tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) yang berada di level rendah sebesar 0,11 persen.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dari sisi penyaluran pembiayaan secara keseluruhan, total pembiayaan yang disalurkan oleh BSI mencapai Rp340,09 triliun, atau mengalami pertumbuhan sebesar 15,98 persen secara tahunan. Kontributor terbesar dari total portofolio pembiayaan perseroan berasal dari gabungan segmen consumer, gold, dan card yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 16,70 persen. Segmen ini menjadi penopang utama bisnis perseroan dengan porsi mencapai 55,65 persen dari total portofolio pembiayaan BSI.
Pertumbuhan pembiayaan perseroan juga didukung oleh kinerja segmen wholesale banking dan retail banking. Pada segmen wholesale banking, pembiayaan BSI tercatat tumbuh 16,62 persen secara tahunan, dengan dorongan utama berasal dari pembiayaan korporasi yang melesat 21,13 persen. Sementara itu, pada segmen retail, penyaluran pembiayaan BSI mengalami pertumbuhan sebesar 12,58 persen pada kuartal II-2026, di mana pembiayaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memberikan kontribusi besar dengan kenaikan mencapai 19,98 persen.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Di tengah ekspansi pembiayaan, BSI tetap menjaga kualitas aset dan memperkuat struktur pendanaan. Kualitas pembiayaan secara keseluruhan berada dalam kondisi yang sehat, ditandai dengan rasio NPF gross yang membaik ke level 1,8 persen serta rasio NPF net pada posisi 0,33 persen. Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI ditopang kuat oleh pertumbuhan simpanan tabungan yang mencapai lebih dari 22 persen. Pertumbuhan tabungan ini berlangsung merata dengan kinerja kenaikan dua digit di berbagai lini produk simpanan, baik pada produk tabungan wadiah maupun tabungan non-wadiah.






