Pelaku pasar keuangan global kini mencermati potensi kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, hingga akhir tahun 2026. Prospek berlanjutnya pengetatan moneter ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan sektor farm-payroll AS yang masih mencatatkan angka tinggi, disertai potensi lonjakan inflasi AS akibat berlanjutnya konflik di Timur Tengah.
Investment Director Sucor Asset Management Dimas Yusuf menyampaikan bahwa arah kebijakan moneter The Fed ke depan masih diselimuti ketidakpastian. Menurutnya, era kepemimpinan Kevin Warsh di bank sentral AS tidak memberikan panduan kebijakan yang jelas bagi para pelaku pasar.
Potensi Kenaikan Suku Bunga September 2026
Meski panduan resmi minim, pasar memperhitungkan langkah agresif dari bank sentral AS dalam waktu dekat. Dimas Yusuf memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin (bps) pada September 2026 semakin meningkat, dengan probabilitas mencapai 60 persen.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kondisi ekonomi AS yang masih resilien serta risiko tekanan harga energi dan komoditas global dari Timur Tengah menjadi faktor pendorong utama yang membuat opsi kenaikan suku bunga acuan tersebut tetap terbuka lebar.
Dilema bagi Kebijakan Bank Indonesia
Kenaikan suku bunga The Fed memberikan tantangan tersendiri bagi otoritas moneter di dalam negeri. Skenario tersebut menciptakan situasi yang cukup dilematis bagi arah penentuan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Di satu sisi, Bank Indonesia perlu memperhatikan posisi dan stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS agar tidak tertekan arus modal keluar. Di sisi lain, bank sentral dituntut untuk tetap menjaga ruang bagi pemulihan dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi domestik melalui kebijakan suku bunga yang akomodatif.
Pembahasan mendalam mengenai arah suku bunga The Fed dan implikasinya terhadap respons kebijakan moneter Indonesia ini diulas dalam dialog bersama Shania Alatas dan Dimas Yusuf pada program Squawk Box.






