Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak menguat pada pembukaan perdagangan Senin (7/9/2026). Mayoritas indeks regional mengawali pekan di zona hijau kendati perhatian pelaku pasar global tetap tertuju pada situasi geopolitik Timur Tengah akibat memanasnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Penguatan signifikan terjadi di bursa saham Korea Selatan. Indeks Kospi melesat 3,09%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq naik 1,33%. Di Tokyo, indeks Nikkei 225 menguat hampir 1% dan indeks Topix naik 0,55% pada awal sesi transaksi. Di sisi lain, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 terpantau bergerak datar. Aktivitas perdagangan di kawasan berlangsung tanpa panduan langsung dari Wall Street mengingat pasar saham AS tutup pada Senin karena libur nasional.
Kenaikan bursa Asia terjadi di tengah bayang-bayang ketegangan militer antara Washington dan Teheran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kedua belah pihak masih terlibat aksi saling serang meski upaya diplomasi untuk meredam eskalasi terus berjalan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Terbaru, AS dilaporkan menyerang tiga kapal tanker minyak Iran. Operasi tersebut dilancarkan setelah militer AS menyatakan kapal-kapal perangnya menjadi sasaran serangan rudal balistik dari pihak Iran. Dinamika militer ini terus menjaga volatilitas di pasar komoditas, di mana konflik terbuka telah mendorong kenaikan tajam harga energi global.
Ketidakpastian geopolitik makin menguat setelah Menteri Energi AS Chris Wright menyampaikan pesimisme terkait negosiasi pembatasan nuklir. Dalam wawancara pada program This Week di ABC News, Wright menyatakan bahwa kesepakatan nuklir dengan Iran kemungkinan tidak akan terealisasi dalam waktu dekat. Ia bahkan menyebut opsi penghancuran kemampuan pengayaan senjata nuklir Iran sebagai langkah yang memungkinkan.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Upaya menggagalkan Iran memperoleh senjata nuklir merupakan salah satu agenda utama kampanye militer yang berulang kali ditegaskan oleh Presiden Donald Trump. Pelaku pasar kini terus mengamati seberapa jauh eskalasi konflik ini akan berdampak pada pasokan energi internasional serta stabilitas ekonomi makro.






