Ketersediaan unit kendaraan listrik BYD di Indonesia kini resmi memasuki babak baru menyusul keputusan PT BYD Motor Indonesia untuk menyetop impor mobil secara utuh (completely built up/CBU). Pembeli yang memesan unit saat ini masih dapat memperoleh kendaraan dari sisa pasokan impor di diler, namun seluruh pengiriman unit baru selanjutnya akan dipasok langsung dari lini manufaktur domestik.
Kebijakan penghentian impor CBU tersebut berlaku seiring dengan mulai beroperasinya pabrik manufaktur kendaraan listrik BYD yang berlokasi di Subang, Jawa Barat. Pabrik ini menjadi tumpuan utama operasional perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri secara mandiri.
Realisasi Komitmen Kuota Impor dan Perakitan Domestik
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menegaskan bahwa perusahaan kini memusatkan seluruh konsentrasi pada aktivitas produksi domestik. Stok model CBU sebelumnya yang masih tersisa di jaringan distribusi diler akan terus dipasarkan hingga habis sebelum digantikan sepenuhnya oleh unit rakitan lokal.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Peralihan skema pasokan ini merupakan bagian dari komitmen BYD setelah sebelumnya memanfaatkan fasilitas insentif dari pemerintah Indonesia. Melalui regulasi tersebut, BYD memperoleh kuota impor kendaraan listrik hingga 100.000 unit dalam jangka waktu dua tahun. Dari total alokasi yang diberikan, BYD tercatat memanfaatkan sekitar 92.000 unit kendaraan impor.
Sebagai timbal balik atas pemanfaatan kuota insentif tersebut, prinsipal diwajibkan membangun sarana produksi di dalam negeri serta memenuhi sejumlah persyaratan teknis, termasuk ketentuan spesifikasi baterai dan motor listrik. Manajemen menargetkan pemenuhan seluruh kewajiban produksi lokal ini rampung dalam kurun waktu dua tahun ke depan, sejalan dengan tren penjualan di pasar nasional.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Kapasitas Pabrik dan Nilai Investasi di Subang
Pembangunan basis manufaktur di Subang didukung oleh total komitmen investasi sekitar Rp16 triliun. Angka tersebut mencakup pembangunan pabrik perakitan utama serta pengembangan berbagai infrastruktur pendukung di kawasan industri terkait.
Secara kapasitas, fasilitas manufaktur BYD di Subang dirancang mampu memproduksi hingga 150.000 unit kendaraan per tahun. Dalam tahap operasionalnya, realisasi produksi pabrik ditargetkan mencapai kisaran 10.000 unit per bulan untuk menjamin kelancaran rantai pasok konsumen di seluruh Indonesia.






