Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menggelar agenda uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Deputi Gubernur Bank Indonesia pada Kamis (27/8/2026). Dalam sesi pemaparan dan tanya jawab tersebut, calon Deputi Gubernur BI M. Anwar Bashori menilai realisasi pembentukan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau rupiah digital belum menjadi kebutuhan yang mendesak untuk diterapkan di Indonesia.
Anwar Bashori, yang kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, menggarisbawahi sejumlah pertimbangan mendasar terkait kesiapan ekosistem domestik. Menurut keterangannya, Indonesia memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi dalam hal kebiasaan penggunaan uang, jenjang edukasi masyarakat, kondisi geografis kepulauan, hingga tantangan stabilitas nilai tukar.
Kondisi peredaran uang fisik di berbagai pelosok Indonesia masih menghadapi ketimpangan kualitas. Anwar memaparkan bahwa sebanyak 90 persen pekerjaan Bank Indonesia setiap tahun di lokasi-lokasi tertentu masih difokuskan hanya untuk menarik dan mengganti uang lusuh. Hal ini disebabkan standar kelayakan edar uang tunai yang belum merata antardaerah di seluruh wilayah Indonesia.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Progres Riset dan Pengujian Proyek Garuda
Kendati penerapannya dinilai belum urgen dari sisi sirkulasi publik, Bank Indonesia tetap melanjutkan eksplorasi teknis mata uang digital melalui inisiatif Proyek Garuda. Proyek ini merupakan kerangka kerja BI untuk mengeksplorasi potensi dan infrastruktur CBDC di Indonesia.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa pengembangan Proyek Garuda merupakan kesinambungan dari rangkaian proses yang telah dirintis sejak tahun 2022. Tahapan tersebut mencakup penerbitan dokumen white paper, consultative paper, serta publikasi laporan konsultasi publik.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Dari sisi evaluasi teknis, Bank Indonesia telah menyelesaikan peninjauan konsep atau proof of concept (PoC) tahap pertama untuk skenario immediate state – wholesale cash ledger.
Kelanjutan riset pada 2025 diarahkan pada pengujian komprehensif berbasis platform distributed ledger technology (DLT). Tahap pengujian ini difokuskan untuk mengukur aspek teknis kritikal, standar keamanan transaksi, serta kemampuan interoperabilitas sistem rupiah digital dengan infrastruktur keuangan dan sistem pembayaran yang sudah beroperasi saat ini.






