Calon tunggal Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman, mengungkapkan bahwa tantangan pergerakan nilai tukar rupiah pada 2026 tergolong cukup berat. Pernyataan tersebut disampaikan saat Aida menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurut Aida, kondisi pasar pada 2026 menjadi jauh lebih berat lantaran tingginya ketidakpastian global yang membuat persepsi investor berubah dengan sangat cepat. Dinamika ini memengaruhi arus permodalan lintas negara yang berimbas langsung pada mata uang domestik.
Keterkaitan Neraca dan Arus Modal
Aida memaparkan bahwa pergerakan kurs rupiah memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kondisi neraca transaksi berjalan dan transaksi finansial. Ketika aliran modal finansial masuk ke pasar domestik menguat, rupiah cenderung mendapatkan tekanan apresiasi atau dorongan penguatan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sebaliknya, saat sentimen global memburuk dan terjadi tekanan pada aliran modal keluar, nilai tukar rupiah berisiko mengalami depresiasi. Tren pelemahan serupa sempat dialami rupiah sepanjang 2025, yang kemudian direspons BI melalui berbagai upaya stabilisasi agar pelemahan tidak berlanjut secara berlebihan.
Fokus Stabilitas dan Pengendalian Inflasi
Menghadapi ketidakpastian pasar yang tinggi, Aida menegaskan bahwa Bank Indonesia tidak menargetkan nilai tukar pada level nominal tertentu. Prioritas utama bank sentral adalah menjaga pergerakan rupiah tetap stabil dan mencegah terjadinya pelemahan berlebihan (overshooting) dari kondisi fundamentalnya.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Ketahanan mata uang nasional pada 2026 juga ditopang oleh fundamental ekonomi yang masih terjaga. Salah satu penopangnya adalah proyeksi defisit transaksi berjalan yang diperkirakan tetap berada pada level terkendali di kisaran 3,3% dari produk domestik bruto (PDB).
Penjagaan stabilitas nilai tukar rupiah dinilai krusial karena pelemahan kurs berpotensi meningkatkan harga barang-barang impor, yang pada akhirnya dapat mendorong laju inflasi domestik. Oleh sebab itu, stabilitas rupiah menjadi bagian penting dari langkah Bank Indonesia untuk memastikan laju inflasi tetap berada dalam rentang sasaran yang telah disepakati bersama Kementerian Keuangan.






