Kejahatan dengan modus iming-iming finansial semakin mengkhawatirkan, terutama yang menyasar anak di bawah umur. Sebuah kasus eksploitasi berkedok pemberian uang jajan baru-baru ini terungkap di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seorang penata rias berinisial HJ (39), yang merupakan seorang waria, terbukti melakukan kekerasan seksual berupa sodomi terhadap tujuh remaja. Berdasarkan keterangan dari Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP Luk Luk ud Danah, pelaku menggunakan modus memberikan uang jajan setiap kali memaksa korban berhubungan. Tindakan ini diketahui diduga telah berlangsung sejak Juni 2026. Para korban yang rata-rata berusia 13 hingga 15 tahun dan berstatus pelajar ini awalnya tidak berani melapor karena merasa takut serta berada di bawah tekanan. Kasus ini akhirnya terbongkar setelah salah satu korban melaporkan peristiwa tersebut. Pelaku HJ kemudian mendatangi Polres Lombok Tengah untuk mengamankan diri karena merasa keselamatannya terancam usai laporan itu diketahui oleh warga di lingkungan sekitar.
Menyikapi modus pemberian uang jajan yang berujung pada eksploitasi, orang tua perlu mengambil langkah preventif yang terstruktur. Langkah pertama adalah membangun komunikasi terbuka mengenai keuangan pribadi anak sehari-hari. Remaja pada usia belasan tahun sering kali memiliki keinginan kuat untuk memiliki uang saku tambahan demi memenuhi gaya hidup, membeli kuota internet, atau sekadar menabung untuk kebutuhan pribadi mereka. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi tempat yang paling nyaman bagi anak untuk menceritakan dari mana mereka mendapatkan uang atau barang baru. Jika anak tiba-tiba memiliki uang jajan berlebih yang tidak jelas asal-usulnya, orang tua wajib menelusurinya secara bijak tanpa langsung menghakimi. Komunikasi dua arah yang baik akan membuat anak lebih mudah memahami bahwa menerima uang secara cuma-cuma dari orang dewasa di luar keluarga sering kali memiliki niat tersembunyi yang sangat membahayakan keselamatan fisik dan mental mereka.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Langkah kedua adalah memberikan edukasi literasi keuangan dasar dan memperkenalkan cara mendapatkan penghasilan yang aman melalui jalur yang benar. Daripada tergiur oleh uang instan dari pihak yang tidak bertanggung jawab, remaja dapat diarahkan untuk memahami nilai kerja keras dan proses mendapatkan uang melalui usaha yang positif. Di era modern saat ini, banyak aktivitas ekonomi digital yang bisa dipelajari oleh pelajar tanpa harus mengganggu waktu sekolah mereka. Orang tua dapat membimbing anak untuk mengasah keterampilan produktif seperti belajar desain grafis dasar, berlatih menulis, atau membuat karya kreatif lainnya yang bermanfaat. Memperkenalkan konsep ekonomi yang sehat dan aman sejak dini akan membentuk mental kemandirian yang kuat pada anak. Dengan pemahaman ini, mereka akan lebih menghargai proses dan tidak mudah dimanfaatkan oleh iming-iming materi atau uang jajan dari pelaku kejahatan.
Langkah ketiga adalah melatih ketegasan anak untuk berani menolak pemberian yang mencurigakan serta segera melapor kepada pihak yang dipercaya. Kondisi psikologis para korban di Lombok Tengah yang sempat merasa takut dan tertekan menunjukkan bahwa rasa intimidasi sering kali menjadi senjata utama para pelaku kejahatan. Anak-anak harus dibekali pemahaman mendalam mengenai batasan privasi tubuh dan hak mutlak mereka untuk menolak segala bentuk paksaan, meskipun paksaan tersebut disertai dengan tawaran uang jajan yang terlihat menggiurkan. Mereka harus diyakinkan bahwa keluarga dan pihak berwenang akan selalu memberikan perlindungan penuh jika terjadi ancaman. Rasa aman yang bersumber dari dukungan lingkungan terdekat akan menumbuhkan keberanian bagi remaja untuk segera bersuara ketika menghadapi situasi yang tidak wajar atau membahayakan diri mereka.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Langkah keempat adalah memperkuat pengawasan sosial secara kolektif di lingkungan tempat tinggal. Upaya pencegahan eksploitasi finansial pada remaja tidak bisa diselesaikan hanya dari pengawasan di dalam rumah. Masyarakat sekitar juga harus memiliki tingkat kepekaan yang tinggi terhadap interaksi sosial yang terjadi di lingkungan mereka, terutama jika melihat ada orang dewasa yang sering memberikan uang atau barang kepada pelajar tanpa alasan yang jelas. Kepedulian warga terbukti mampu memberikan tekanan balik yang efektif kepada pelaku kejahatan. Hal ini terlihat dengan jelas ketika pelaku HJ akhirnya memilih untuk mendatangi aparat kepolisian demi mengamankan dirinya, karena merasa terancam oleh reaksi warga yang mulai mengetahui perbuatannya. Kolaborasi yang kuat antara edukasi keluarga, pengenalan kemandirian finansial yang positif, serta pengawasan lingkungan yang ketat akan menciptakan ekosistem yang benar-benar aman bagi masa depan generasi muda.






