Pihak kepolisian terus melakukan pengusutan mendalam terhadap kasus tantangan (challenge) hafalan Al-Qur'an yang diadakan saat konser musik The Sounds Project berlangsung di kawasan Ancol, Jakarta Utara (Jakut). Penyelidikan ini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum demi memastikan kejelasan perkara. Pelaksana Harian (Plh) Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Oki Waskito, memberikan pernyataan resmi bahwa proses penyelidikan ini masih terus berjalan dan tidak menutup kemungkinan untuk merembet ke pihak-pihak lain yang turut terlibat dalam insiden tersebut.
Dalam perkembangan penanganan kasus ini, aparat kepolisian telah mengambil tindakan hukum yang tegas dengan menangkap dua orang yang diduga kuat terkait dengan kejadian tersebut. Kedua orang yang telah ditangkap oleh petugas kepolisian tersebut masing-masing adalah seorang perempuan yang memiliki inisial R dan seorang laki-laki yang memiliki inisial E. Penangkapan ini menjadi langkah awal kepolisian dalam mengurai peran masing-masing pihak dalam insiden tantangan hafalan Al-Qur'an tersebut.
Selain melakukan penangkapan terhadap kedua terduga pelaku tersebut, penyidik kepolisian juga telah memanggil dan memeriksa sejumlah orang untuk dimintai keterangan. Hingga kini, tercatat sudah ada enam orang yang diperiksa oleh penyidik terkait dengan insiden tersebut. Pemeriksaan ini dilakukan guna mengumpulkan informasi yang komprehensif mengenai bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi di tengah-tengah pelaksanaan konser musik.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Untuk memperkuat proses hukum, penyidik kepolisian juga telah mengamankan sejumlah barang bukti penting di lapangan. Pihak penyidik telah melakukan penyitaan terhadap dua buah bukti autentik elektronik dari lokasi kejadian. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, dua bukti elektronik yang diambil oleh polisi tersebut mengarah pada pembuktian adanya tindakan penistaan agama dalam pelaksanaan tantangan hafalan Al-Qur'an tersebut.
Penyelenggara acara, The Sounds Project, turut memberikan respons yang sangat tegas setelah mengetahui adanya insiden tersebut di area konser mereka. Pihak penyelenggara menyatakan rasa marah, kecewa, serta mengecam keras perilaku tersebut. Mereka menegaskan secara tertulis bahwa pihak penyelenggara tidak pernah dan tidak akan pernah membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan tantangan (challenge) ataupun promosi produk dalam bentuk apa pun. Sebagai langkah nyata, penyelenggara The Sounds Project juga telah menegur pihak sponsor terkait dan meminta mereka untuk menyelesaikan kasus ini hingga tuntas.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Sementara itu, pihak sponsor melalui Direktur Newport, Handoko Sasongko, telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh umat muslim, tokoh agama, serta seluruh masyarakat Indonesia. Permohonan maaf tersebut disampaikan atas munculnya kejadian yang telah menimbulkan ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan di tengah publik. Handoko memberikan klarifikasi bahwa aktivitas tantangan hafalan Al-Qur'an tersebut sama sekali bukan merupakan program, konsep promosi, challenge, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh pihak Newport. Menurut penjelasannya, aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi konser.
Meskipun menyatakan bahwa aksi tersebut bersifat spontan dari pengunjung, pihak Newport tetap mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan internal mereka selama acara berlangsung. Handoko Sasongko menyatakan bahwa pihaknya sangat menyesal atas adanya kelemahan dalam pengawasan terhadap pengunjung, yang mengakibatkan pengunjung bisa mengambil alih mikrofon dari pembawa acara (MC) di lapangan. Dengan adanya pengusutan dari Polres Metro Jakarta Utara, diharapkan kasus ini dapat diselesaikan secara hukum yang berlaku.






