Bagaimana cara sebuah bisnis penyedia jasa teknologi bertahan dan terus berkembang di tengah disrupsi digital yang tidak ada habisnya? Menjawab tantangan tersebut memerlukan langkah-langkah strategis yang terencana, mulai dari pembaruan struktur organisasi hingga pemanfaatan kecerdasan buatan secara optimal. Di tengah iklim kompetisi saat ini, langkah nyata adaptasi teknologi menjadi kunci utama bagi keberlanjutan operasional perusahaan sektor informasi dan teknologi (IT).
Langkah pertama yang perlu diambil adalah membentuk divisi khusus yang fokus pada pengembangan teknologi baru. Sebagai contoh nyata, Metrocom, perusahaan yang didirikan pada tahun 1998 oleh Bobby Sangka yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur dan Indra Pattiasina sebagai Presiden Komisaris, telah membentuk divisi khusus kecerdasan buatan. Divisi ini secara spesifik bertugas mengembangkan berbagai produk berbasis kecerdasan buatan yang siap dipasarkan. Langkah ini memastikan adanya fokus riset yang tidak terganggu oleh proyek harian lainnya.
Langkah kedua adalah menerapkan inovasi tersebut ke dalam sistem internal organisasi terlebih dahulu. Efisiensi operasional dapat ditingkatkan secara signifikan dengan memanfaatkan teknologi pada fungsi-fungsi krusial. Metrocom sendiri telah mengimplementasikan teknologi ini pada kegiatan internal mereka, meliputi bidang sumber daya manusia (HR), keuangan, hingga manajemen proyek (project management). Penerapan internal ini dipantau langsung untuk memastikan efektivitas sistem sebelum ditawarkan pada skala yang lebih besar.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Langkah ketiga adalah melakukan peremajaan dan regenerasi talenta secara konsisten. Untuk mengimbangi akselerasi teknologi, perusahaan IT perlu aktif merekrut generasi muda, termasuk Gen Z. Kelompok usia ini dinilai lebih mengikuti perkembangan teknologi terkini. Langkah rekrutmen yang tepat sasaran akan menjaga dinamika inovasi di dalam tim tetap segar dan relevan dengan kebutuhan industri.
Langkah keempat adalah memiliki fleksibilitas untuk mengalihkan fokus bisnis saat terjadi krisis. Sejarah pendirian Metrocom berawal dari kekhawatiran Bobby Sangka yang sebelumnya bekerja di Nova Sprint Consulting, sebuah perusahaan asal Singapura, dan Indra Pattiasina yang bekerja di IBM. Mereka khawatir tempat bekerja mereka akan menutup operasional di Indonesia saat krisis moneter, sehingga memutuskan untuk membangun usaha sendiri. Setelah mengamankan proyek pertama dari Kejaksaan Agung pada periode 1998 hingga sekitar tahun 2000, perusahaan terus belajar beradaptasi. Fleksibilitas ini kembali dibuktikan saat pandemi COVID-19 melanda, di mana perusahaan mengalihkan fokus dari infrastruktur ke keamanan (security).
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Langkah kelima adalah melakukan diversifikasi layanan melalui anak perusahaan yang spesifik. Di bawah jajaran manajemen yang mencakup Direktur Solution Delivery Metrocom Refendi Panggabean, koordinasi layanan dilakukan secara terarah. Metrocom berperan sebagai system integrator, sementara anak-anak perusahaannya fokus pada bidang khusus seperti IT security dan Google Cloud Platform. Spesialisasi ini memudahkan perusahaan dalam merespons kebutuhan klien yang semakin kompleks secara cepat.
Sebagai penutup rangkaian transformasi, penting bagi manajemen untuk menyatukan visi seluruh karyawan melalui kegiatan kolektif. Momentum untuk memulai kembali (restart) ini ditandai dalam kegiatan RUNNECTED28 yang diselenggarakan di Sarinah, Jakarta, pada Ahad, 9 Agustus 2026. Dipimpin oleh Triska Sangka sebagai Ketua Panitia, acara lari sejauh 2,8 kilometer dengan rute dari Sarinah menuju Bundaran HI dan kembali ke Sarinah ini diikuti oleh sekitar 350 karyawan. Melalui sinergi internal dan adaptasi teknologi yang terarah, perusahaan IT dapat terus berdiri kokoh menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.






