Pemerintah India mengambil langkah strategis dengan mempercepat pelepasan kepemilikan saham pada sejumlah badan usaha milik negara (BUMN). Kebijakan divestasi ini ditempuh sebagai sumber pendanaan alternatif guna menopang belanja publik di tengah tekanan defisit fiskal yang membayangi dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah tersebut diambil saat India mencatatkan laju pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih cepat dibandingkan negara-negara ekonomi besar lainnya. Kendati demikian, kinerja anggaran negara tetap menghadapi tantangan berat akibat tingginya inflasi dan kendala fiskal yang berpotensi menahan aktivitas belanja pemerintah.
Sejak awal tahun, pemerintah India tercatat telah melepas sebagian porsi kepemilikan di 10 BUMN meskipun dinamika pasar modal sedang mengalami kelesuan. Beberapa perusahaan pelat merah yang dilepas ke pasar saham antara lain Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp, NHPC, dan Coal India.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dalam aksi korporasi terbarunya, pemerintah merampungkan penjualan 6,5 persen saham pada perusahaan asuransi Life Insurance Corporation of India. Transaksi tersebut menghasilkan dana sekitar US$3,3 miliar atau setara Rp59,06 triliun. Penjualan saham tersebut ditawarkan dengan diskon 10 persen untuk memikat investor domestik, hingga berhasil membukukan penawaran beli yang melampaui target.
Berdasarkan data penyedia intelijen pasar Prime Database, total perolehan dari aksi penjualan saham BUMN India telah melampaui US$6,5 miliar atau sekitar Rp116,33 triliun. Catatan ini menjadi salah satu capaian penghimpunan dana terbesar pemerintah melalui pasar modal dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun terakhir.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Secara keseluruhan, realisasi pelepasan saham tersebut telah mencapai lebih dari 65 persen dari target tahunan yang ditetapkan sebesar 800 miliar rupee atau sekitar US$8,4 miliar (Rp150,33 triliun).
Kepala Riset Ekonomi India di Standard Chartered Bank, Anubhuti Sahay, menilai pemanfaatan dana divestasi merupakan strategi efektif di tengah risiko penurunan pendapatan negara dan naiknya beban subsidi. Sahay mengibaratkan langkah pelepasan kepemilikan saham BUMN ini seperti mencairkan aset berharga keluarga di saat kebutuhan fiskal mendesak.






