Aktivitas pendakian di seluruh kawasan pegunungan di wilayah Jawa Barat dihentikan sementara waktu. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberlakukan penutupan jalur pendakian ini sebagai langkah antisipasi untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau berlangsung.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menginstruksikan seluruh pengelola kawasan pegunungan untuk menutup akses pendakian. Kebijakan ini diambil menyusul tingginya potensi api yang dipicu oleh kelalaian manusia, seperti pembakaran api unggun maupun puntung rokok yang dibuang sembarangan di area vegetasi kering.
"Pendakian gunung untuk sementara ditutup dulu karena khawatir para pendaki nanti menyalakan api," ujar Dedi Mulyadi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/9/2026).
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Data Karhutla Jawa Barat Capai 228 Hektare
Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat hingga 31 Agustus 2026, total luas lahan dan hutan yang terbakar di wilayah Jabar telah mencapai 228,07 hektare. Kerusakan tersebut berasal dari 156 kejadian kebakaran yang tersebar di 178 desa/kelurahan pada 107 kecamatan.
Secara frekuensi kejadian, tiga wilayah mencatat angka insiden kebakaran lahan tertinggi, yaitu: - Kabupaten Sumedang: 21 kejadian - Kabupaten Majalengka: 17 kejadian - Kabupaten Bandung: 16 kejadian
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Sementara itu, wilayah dengan dampak kerusakan lahan terluas berada di Kabupaten Sukabumi dengan luasan 49,20 hektare, disusul Kabupaten Majalengka seluas 26,16 hektare, dan Kabupaten Bandung seluas 24,80 hektare. Penutupan akses pendakian diharapkan mampu mencegah meluasnya titik api baru di kawasan konservasi dan pegunungan Jawa Barat.






