Pencarian terhadap rombongan yang hilang kontak di kawasan perairan Gunung Anak Krakatau masih terus diupayakan. Di tengah proses tersebut, Yayat Suryadi, anak dari salah satu anak buah kapal (ABK) bernama Surakman atau Sukarman (60), memutuskan untuk terjun langsung menyisir perairan Selat Sunda demi mencari sang ayah dan berharap segera memperoleh kabar baik.
Yayat mengungkapkan bahwa dirinya mencoba melakukan pencarian ke area Gunung Anak Krakatau pada hari ketiga setelah kabar hilangnya kapal, tepatnya pada hari Kamis. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena pergerakan menuju lokasi dihadang rintangan alam yang cukup berat.
Saat mulai mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau, proses pencarian terhambat oleh kondisi cuaca ekstrem serta tebalnya abu vulkanik akibat erupsi yang tengah berlangsung. Yayat menyebutkan bahwa saat ia mendatangi lokasi, aktivitas erupsi memang sedang terjadi sehingga menyulitkan jarak pandang dan proses penyisiran di sekitar perairan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Perjalanan Mendadak untuk Liputan Erupsi
Peristiwa hilang kontak ini bermula dari pelayaran pada hari Senin (7/9). Kapal cepat atau speedboat Aru padhatu I berlayar membawa lima orang jurnalis yang berencana meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Dalam operasionalnya, kapal tersebut diawaki oleh kapten kapal bernama Warta, ABK Sukarman, serta seorang pemandu (guide) bernama Heriyanto.
Menurut penuturan Yayat, keberangkatan ayahnya pada hari Senin itu tergolong sebagai perjalanan kilat yang bersifat dadakan. Perjalanan tersebut dilakukan tanpa persiapan matang, termasuk tidak membawa pakaian ganti. Berdasarkan informasi yang diketahuinya, sang ayah sebenarnya baru memiliki jadwal resmi untuk berlayar menuju Ujung Kulon pada hari berikutnya, yakni Selasa (8/9).
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Korban Belum Ditemukan hingga Hari Kelima
Operasi pencarian terhadap para korban masih terus berjalan di perairan Selat Sunda. Namun, hingga hari kelima pencarian berlangsung, keberadaan Sukarman, kapten Warta, pemandu Heriyanto, serta lima jurnalis yang berada di dalam speedboat Aru padhatu I masih belum berhasil ditemukan.
Pihak keluarga korban terus menanti perkembangan operasi SAR dan berharap ada titik terang dari proses pencarian yang dilakukan di tengah tantangan cuaca dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.






