Musim kemarau ekstrem yang melanda sebagian wilayah Provinsi Banten membawa dampak langsung bagi kehidupan sehari-hari warga di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Sebanyak 700 kepala keluarga (KK) kini harus berhadapan dengan krisis air bersih yang cukup parah. Kondisi sulit ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan terakhir akibat minimnya curah hujan di kawasan tersebut. Berdasarkan data dari pihak kepolisian setempat, wilayah yang terdampak kekeringan ini cukup luas dan mencakup sedikitnya lima desa dan kelurahan, yaitu Desa Kadu Agung, Margasari, Desa Pasir Bolang, Pasir Nangka, hingga Kelurahan Cileles.
Di Desa Pasir Bolang, yang menjadi salah satu titik terdampak paling nyata, sumur gali yang selama ini menjadi andalan utama warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih mulai mengering. Menyusutnya debit air secara drastis semenjak awal musim kemarau memaksa warga mencari alternatif lain demi bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sanitasi dasar mereka. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang telah berupaya turun tangan dengan menyalurkan bantuan air bersih langsung ke lokasi. Ketika truk tangki bantuan tiba, antrean panjang segera terbentuk dengan didominasi oleh ibu rumah tangga yang membawa galon kosong serta berbagai wadah penampung air lainnya. Namun, bantuan tersebut dirasa masih sangat kurang karena warga mengaku baru menerima pasokan air bersih dari pemerintah sebanyak satu kali saja selama dua bulan terakhir.








