Musim kemarau ekstrem yang melanda sebagian wilayah Provinsi Banten membawa dampak langsung bagi kehidupan sehari-hari warga di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Sebanyak 700 kepala keluarga (KK) kini harus berhadapan dengan krisis air bersih yang cukup parah. Kondisi sulit ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan telah berlangsung selama kurang lebih dua bulan terakhir akibat minimnya curah hujan di kawasan tersebut. Berdasarkan data dari pihak kepolisian setempat, wilayah yang terdampak kekeringan ini cukup luas dan mencakup sedikitnya lima desa dan kelurahan, yaitu Desa Kadu Agung, Margasari, Desa Pasir Bolang, Pasir Nangka, hingga Kelurahan Cileles.
Di Desa Pasir Bolang, yang menjadi salah satu titik terdampak paling nyata, sumur gali yang selama ini menjadi andalan utama warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih mulai mengering. Menyusutnya debit air secara drastis semenjak awal musim kemarau memaksa warga mencari alternatif lain demi bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sanitasi dasar mereka. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang telah berupaya turun tangan dengan menyalurkan bantuan air bersih langsung ke lokasi. Ketika truk tangki bantuan tiba, antrean panjang segera terbentuk dengan didominasi oleh ibu rumah tangga yang membawa galon kosong serta berbagai wadah penampung air lainnya. Namun, bantuan tersebut dirasa masih sangat kurang karena warga mengaku baru menerima pasokan air bersih dari pemerintah sebanyak satu kali saja selama dua bulan terakhir.
Untuk mengantisipasi situasi yang terus berkembang dan belum menentu ini, Polsek Tigaraksa di bawah kepemimpinan Kapolsek AKP I Made Artana tengah gencar melakukan pendataan terhadap warga yang terdampak kekeringan di wilayah hukum mereka. Langkah kepolisian ini dinilai krusial agar penyaluran bantuan sosial atau logistik di masa mendatang bisa lebih tepat sasaran dan merata. AKP I Made Artana memprediksi bahwa musim kemarau ekstrem ini masih berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026. Dengan perkiraan durasi kekeringan yang masih cukup panjang tersebut, warga di Kecamatan Tigaraksa dipaksa untuk segera melakukan penyesuaian anggaran belanja rumah tangga mereka agar kebutuhan air harian tetap dapat terpenuhi dengan baik.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Krisis air bersih yang berkepanjangan ini secara langsung memberikan tekanan finansial yang signifikan bagi keluarga di wilayah terdampak. Agar bisa memasak makanan, menyediakan air minum layak konsumsi, serta memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), warga tidak punya pilihan lain selain membeli air galon komersial secara eceran. Rata-rata setiap rumah tangga terpaksa membeli sebanyak 3 hingga 4 galon air per hari. Pembelian air ini membutuhkan biaya berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 setiap harinya, tergantung pada tingkat konsumsi masing-masing keluarga. Jika dihitung dalam jangka waktu satu bulan, pengeluaran tambahan untuk air bersih saja bisa mencapai kisaran Rp450.000 hingga Rp600.000. Angka pengeluaran tambahan ini tentu menjadi beban yang sangat berat bagi stabilitas ekonomi rumah tangga setempat, terutama bagi mereka yang berpenghasilan tidak tetap.
Dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat krisis air ini, pemanfaatan aplikasi pencatat keuangan digital (personal finance applications) dapat menjadi salah satu solusi praktis bagi warga untuk mengelola anggaran darurat mereka. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat melacak pengeluaran harian secara lebih terperinci dan mengidentifikasi pos belanja non-primer lain yang bisa dipangkas sementara waktu demi mengamankan dana pembelian air bersih. Selain itu, penggunaan platform digital penyedia layanan pengiriman barang atau aplikasi belanja kebutuhan pokok juga bisa dimanfaatkan untuk membandingkan harga air galon dari berbagai agen terdekat guna menemukan penawaran terbaik atau promo potongan harga yang dapat menghemat pengeluaran harian.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Mengingat potensi kekeringan ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, pengelolaan keuangan yang disiplin dan pemantauan distribusi bantuan secara berkala menjadi kunci penting bagi warga untuk bertahan. Warga diimbau untuk tetap berkoordinasi aktif dengan pengurus lingkungan masing-masing agar kondisi riil di lapangan dapat terus terpantau oleh BPBD dan kepolisian yang sedang melakukan pendataan. Meskipun masa depan cuaca masih diliputi ketidakpastian, kombinasi antara penghematan penggunaan air secara fisik dan perencanaan anggaran belanja yang matang dengan bantuan teknologi diharapkan mampu meminimalisasi dampak finansial yang dirasakan oleh masyarakat Tigaraksa selama masa sulit ini.






