Kondisi perairan Cilacap Selatan, Jawa Tengah, kini menjadi ruang penerapan teknologi kecerdasan buatan bagi para nelayan tradisional. MetaSeaco, startup binaan program Pertamuda Pertamina, mengembangkan platform bernama Iwak yang memanfaatkan integrasi Artificial Intelligence (AI) dan data satelit untuk membantu nelayan membaca potensi perairan sebelum menurunkan perahu ke laut.
Inovasi ini berangkat dari tingginya risiko operasional di sektor perikanan tangkap. Data pencatatan MetaSeaco terhadap 6.806 perjalanan melaut nelayan di Cilacap Selatan menunjukkan bahwa sekitar 41 persen perjalanan berakhir dengan kerugian, terutama akibat tingginya konsumsi bahan bakar yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan.
Melalui sistem Iwak, nelayan dapat memantau waktu keberangkatan yang paling tepat, menentukan target jenis ikan, hingga melihat titik koordinat perairan yang berpotensi memiliki populasi ikan tinggi. CEO MetaSeaco Catur Prasetyo Nugroho menyatakan bahwa panduan ini memungkinkan nelayan memperhitungkan kelayakan berlayar langsung dari daratan sebelum memulai perjalanan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Penurunan Biaya dan Peningkatan Hasil Tangkap
Implementasi teknologi Iwak telah diuji coba pada 15 perahu nelayan di Cilacap. Penggunaan data navigasi presisi ini tercatat mampu memangkas biaya operasional melaut sekitar 23 persen. Pada saat yang sama, rata-rata pendapatan nelayan mengalami peningkatan hingga 68 persen, sementara tingkat perjalanan melaut yang mengalami kerugian turun dari 41 persen menjadi sekitar 30 persen.
Dalam salah satu pelayaran yang mengacu pada koordinat berskor prediksi tinggi, nelayan dilaporkan berhasil membukukan pendapatan sekitar Rp 3 juta. Berdasarkan evaluasi tangkapan, tingkat akurasi sistem Iwak mencapai 91 persen untuk komoditas ikan tenggiri batang, 85 persen untuk ikan bawal putih, serta 70 persen untuk ikan layur.
Perluasan Lewat Program Desa Energi Berdikari
Teknologi buatan MetaSeaco ini disiapkan untuk direplikasi ke berbagai wilayah binaan Pertamina melalui kolaborasi dengan program Desa Energi Berdikari (DEB). Rencana perluasan tersebut diperkenalkan dalam gelaran Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina Rudi Ariffianto menjelaskan bahwa kolaborasi dengan inovator muda dari program Pertamuda diarahkan untuk memperkuat dampak ekonomi di 269 lokasi Desa Energi Berdikari yang dikelola perseroan.
Selain digitalisasi sektor nelayan bersama MetaSeaco, program tersebut juga mengintegrasikan solusi teknologi sektor agrikultur dan pengolahan hasil bumi. Startup energi terbarukan Terangin, yang dipimpin Muhammad Hanif, menghadirkan alat penghalau hama burung berbasis laser otomatis di DEB Juntinyuat, Indramayu. Di lokasi lain, Pertamina menggandeng PT Global Vision Tech di DEB Nagari Katapiang guna membangun rantai nilai dan hilirisasi produk komoditas kelapa.






