Keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) valuta asing, khususnya dolar Amerika Serikat, memegang peranan kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Penjelasan tersebut disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta saat memberikan edukasi kepada masyarakat dalam perhelatan Lampung Financial Festival 2026 pada Sabtu (5/9/2026).
Dalam paparannya, dinamika kurs mata uang sangat ditentukan oleh ketersediaan dolar di dalam negeri. Saat pasokan dolar meningkat di tengah permintaan yang rendah, rupiah berpotensi mengalami penguatan. Sebaliknya, ketika permintaan dolar meningkat saat pasokannya terbatas, harga dolar AS akan terkerek naik sehingga rupiah menghadapi tekanan pelemahan. Nilai tukar yang bergerak dari level Rp17.000 menjadi Rp15.000 per dolar AS menandakan rupiah menguat karena jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk membeli satu dolar menjadi lebih sedikit.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sumber Pasokan dan Kebutuhan Valas
Pasokan valuta asing Indonesia terutama ditopang oleh kinerja ekspor yang menghasilkan devisa. Selain itu, arus masuk modal dari investor asing yang membeli surat berharga Indonesia atau menanamkan modal secara langsung di dalam negeri turut menambah ketersediaan valas.
Sebaliknya, peningkatan kebutuhan atau permintaan dolar dipicu oleh aktivitas impor, mengingat pembayaran transaksi barang dan jasa dari luar negeri umumnya memakai mata uang asing. Kebutuhan valas juga melonjak saat terjadi arus modal keluar (capital outflow), yaitu ketika investor asing melepas aset investasinya di Indonesia dan merepatriasi dana tersebut ke luar negeri.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Tiga Faktor Penggerak Kurs
Pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu fundamental, struktural, dan sentimen:
- Faktor Fundamental: Berkaitan langsung dengan kondisi neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan nasional.
- Faktor Struktural: Berhubungan dengan keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing dari para pelaku pasar domestik maupun asing.
- Faktor Sentimen: Dipicu oleh dinamika dan gejolak kondisi global, termasuk ketegangan geopolitik serta perubahan harga komoditas dunia. Peristiwa seperti perang di Timur Tengah dapat mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang pada gilirannya ikut mendongkrak penguatan harga dolar AS di pasar internasional.






