Sebanyak 73 orang dilaporkan terluka setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan rentetan serangan ke sejumlah wilayah Arab Saudi. Insiden yang dikonfirmasi oleh otoritas Saudi pada Selasa (8/9/2026) tersebut juga memicu penghentian operasional di beberapa fasilitas energi utama negara tersebut.
Serangan udara dan proyektil Houthi menyasar area pemukiman serta fasilitas vital di kota-kota selatan Arab Saudi, meliputi Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran. Koalisi pimpinan Saudi di Yaman mengonfirmasi bahwa puluhan korban yang mengalami luka-luka mencakup kalangan perempuan dan anak-anak. Pemerintah Saudi mengecam keras agresi ini dan melabelinya sebagai bentuk eskalasi konflik yang sangat berbahaya bagi stabilitas kawasan.
Rekaman Serangan di Perbatasan Al-Wadiah
Sehari sebelum rentetan serangan besar tersebut, Houthi merilis bukti visual pada Senin (7/9/2026) berupa rekaman video yang menunjukkan kepulan asap pekat dari deretan truk di dekat Al-Wadiah, wilayah perbatasan antara Yaman dan Arab Saudi. Kelompok bersenjata itu mengklaim telah menggempur konvoi kendaraan logistik yang melintas dari arah Saudi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kendati rekaman tersebut telah beredar luas, pemerintah Arab Saudi belum mengeluarkan pernyataan atau konfirmasi resmi terkait klaim spesifik serangan truk di kawasan perbatasan tersebut.
Operasional Energi Terhenti dan Minyak Global Melonjak
Dampak serangan Houthi terhadap infrastruktur strategis langsung mengguncang sektor energi Arab Saudi sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia. Beberapa fasilitas energi dilaporkan terpaksa menghentikan aktivitas operasionalnya untuk mengantisipasi kerusakan lebih lanjut dan memastikan prosedur keselamatan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Gangguan rantai pasok ini langsung mendorong lonjakan harga minyak global. Eskalasi militer di wilayah selatan Saudi terjadi di tengah memanasnya kembali tensi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, serta tersendatnya berbagai jalur perundingan damai di Timur Tengah. Kerentanan fasilitas energi utama ini menambah kekhawatiran pasar internasional terhadap stabilitas pasokan minyak dunia dalam jangka pendek.






