JAKARTA — PT Bank CIMB Niaga Tbk memproyeksikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) masih akan naik sekali lagi pada tahun ini. Kenaikan tersebut diproyeksikan mulai mendekati titik puncaknya, sebelum kemudian tidak lagi mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun berikutnya.
WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah menjelaskan bahwa dinamika kebijakan suku bunga acuan turut memengaruhi pergerakan imbal hasil atau yield surat utang pemerintah. Pada kuartal II, yield obligasi pemerintah Indonesia tercatat berada di level 7,16%. Mempertimbangkan potensi kenaikan suku bunga lanjutan, CIMB Niaga memiliki proyeksi yang cukup konservatif bahwa yield obligasi Indonesia dapat mencapai 7,5%.
Lanjar mengingatkan bahwa terdapat hubungan terbalik antara yield dan harga obligasi di pasar. Ketika yield mengalami peningkatan, harga obligasi justru akan mengalami tekanan atau penurunan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Potensi Obligasi dan Risiko Nilai Tukar
Di tengah tren pergerakan suku bunga, instrumen surat utang pemerintah masih memberikan imbal hasil yang menarik bagi pemodal. Sebagai gambaran, Lanjar memaparkan bahwa instrumen obligasi negara seri FR100 saat ini menawarkan yield to maturity di kisaran 7% hingga 7,1%. Sementara itu, obligasi pemerintah dengan tenor sekitar lima tahun menawarkan yield di rentang 6,7% sampai 6,8%.
Selain faktor suku bunga dan pergerakan yield obligasi, investor juga perlu mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar, konsensus Bloomberg memperkirakan nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp17.800 per dolar AS. Di sisi lain, CIMB Niaga menetapkan proyeksi yang lebih konservatif, yakni nilai tukar rupiah berada di posisi Rp18.300 per dolar AS.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Guna memitigasi risiko pelemahan nilai tukar serta volatilitas pasar domestik, investor disarankan untuk melakukan diversifikasi ke aset yang tidak berdenominasi rupiah. Lanjar menyarankan pemodal mulai melirik instrumen alternatif seperti reksa dana global syariah ataupun produk reksa dana pendapatan tetap berbasis mata uang dolar AS.






