Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS 2026 yang digelar di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada Sabtu (12/9/2026). Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, Prabowo memaparkan pandangannya mengenai langkah-langkah strategis untuk membangun bangsa yang tangguh dan mandiri di tengah dinamika global.
KTT ke-18 BRICS ini dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia, di antaranya Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Selain itu, forum tersebut juga diikuti oleh kepala negara dan kepala pemerintahan lainnya yang mayoritas berasal dari negara-negara di belahan bumi selatan (Global South).
Memperkuat Fondasi dari Dalam Negeri
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kekuatan dan ketahanan sebuah bangsa berakar langsung dari kemampuan negara dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya sendiri. Pemenuhan kebutuhan pokok, ketersediaan energi, serta pendidikan menjadi pilar utama dalam mewujudkan masyarakat yang berdaya saing.
"Kekuatan selalu berawal dari rumah, dari rakyat kita, dari kemampuan kita untuk memberi makan rakyat kita, untuk menyediakan energi yang mereka butuhkan, untuk mendidik anak-anak kita, dan untuk memberi mereka kesempatan untuk sejahtera," ujar Prabowo dalam pidatonya di hadapan para pemimpin dunia.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Peran Global South dan Kedaulatan Bangsa
Prabowo turut menyinggung rekam jejak peran Indonesia di panggung internasional. Ia menyampaikan bahwa suara Indonesia di belahan bumi selatan telah didengar dan diperhitungkan sejak berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung. Sejalan dengan semangat tersebut, Indonesia tetap memegang teguh prinsip kedaulatan dan menolak segala bentuk hegemoni.
Di forum KTT BRICS tersebut, Prabowo secara tegas menyatakan bahwa Indonesia tidak ingin didikte oleh satu atau dua kekuatan mana pun di dunia. Sikap ini menegaskan komitmen Indonesia untuk tetap mandiri dan independen dalam menentukan arah kebijakan nasional maupun kerja sama internasional.
Kerja Sama Ketahanan Energi Kawasan
Selain menekankan kedaulatan pangan dan pembangunan sumber daya manusia, Prabowo mengangkat pentingnya integrasi sistem serta penguatan ketahanan energi di tingkat kawasan demi menopang pertumbuhan ekonomi.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

"Kami sedang menghubungkan sistem energi dan memperkuat ketahanan energi di seluruh kawasan kami untuk menggerakkan ekonomi serta membangun ketangguhan jangka panjang," kata Prabowo.
Langkah penguatan ketahanan energi tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mendorong roda perekonomian sekaligus membangun daya tahan negara yang berkelanjutan.






