Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyampaikan bahwa kualitas udara di sejumlah wilayah Jakarta menunjukkan perbaikan setelah dilakukannya penyiraman air. Tindakan penyiraman tersebut dilaksanakan guna menangani sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi menjelaskan bahwa perubahan paling signifikan pascapenyiraman terlihat dari berkurangnya penyebaran partikulat PM10. Penyiraman difokuskan untuk membasahi abu vulkanik yang telah mengendap di permukaan jalan dan area lainnya agar partikel abu tidak kembali beterbangan ke udara akibat tiupan angin maupun aktivitas pergerakan kendaraan.
Dalam pelaksanaan operasi pembersihan tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengerahkan puluhan armada yang terdiri atas mobil pemadam kebakaran, truk tangki air, hingga unit mobile watermist di sejumlah lokasi. Penanganan ini dijalankan melalui kolaborasi bersama antara Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Pertamanan dan Hutan Kota.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Sebelum dilakukannya penyiraman, sebaran PM10 dengan konsentrasi tinggi tercatat cukup luas meliputi wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan. Setelah penyiraman dilakukan, area dengan sebaran PM10 tinggi berhasil ditekan menjadi jauh lebih terbatas. Berdasarkan hasil pemantauan pada 6-7 September 2026, area yang masih teridentifikasi memiliki nilai PM10 tinggi terutama berada di wilayah Cilincing bagian timur dan Cipayung bagian tenggara.
Selain partikulat PM10, pemantauan kualitas udara oleh DLH DKI Jakarta juga dilakukan terhadap parameter partikulat PM2.5 dan gas sulfur dioksida (SO₂). Hasil pemantauan menunjukkan adanya penurunan sebaran area dengan nilai PM2.5 tinggi di sejumlah titik di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Timur.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Kendati demikian, Dudi menyebutkan masih terdapat beberapa wilayah yang membutuhkan perhatian penanganan lebih lanjut, termasuk kawasan Kembangan dan Kebon Jeruk. Sementara itu, perubahan konsentrasi SO₂ dilaporkan belum menunjukkan perbaikan yang merata di seluruh wilayah.






