Bagaimana perbankan daerah mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu naik kelas dan bertahan di tengah dinamika pasar? Bank Pembangunan Daerah (BPD) di berbagai wilayah menerapkan sejumlah strategi, mulai dari perbaikan tata kelola internal usaha, pembukaan akses pasar, hingga penataan struktur dana pihak ketiga guna menghadirkan bunga pinjaman yang lebih kompetitif.
Direktur Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali), I Komang Wiratna Jaya, mengungkapkan bahwa kendala mendasar yang kerap dihadapi pelaku UMKM adalah pencatatan keuangan yang masih konvensional. Salah satu persoalan umum adalah penggabungan kas usaha dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Menjawab kendala tersebut, Bank BPD Bali secara berkala memberikan pendampingan dan edukasi manajemen pengelolaan keuangan. Di samping pembenahan operasional, perluasan pasar disokong melalui fasilitasi keikutsertaan pameran dan penyediaan pojok UMKM di setiap kantor cabang. Dari sisi permodalan, perseroan terus mengembangkan produk kredit dengan struktur suku bunga yang dirancang mendekati tingkat bunga subsidi pemerintah.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Pergeseran Struktur Kredit Produktif Daerah
Langkah penguatan sektor riil juga difokuskan pada pembenahan struktur pembiayaan. Direktur Utama Bank Lampung, Indra Merviana, menjelaskan bahwa penyaluran kredit di perbankan daerah saat ini umumnya masih terkonsentrasi pada sektor konsumtif. Di Bank Lampung, porsi kredit konsumtif mencapai 73%, sedangkan pembiayaan produktif baru berada di angka 27%.
Guna mendongkrak porsi produktif, Bank Lampung menargetkan peningkatan dana murah berupa giro dan tabungan agar tidak lagi bertumpu pada instrumen deposito yang berbiaya lebih mahal. Penurunan biaya dana ini disiapkan untuk menurunkan suku bunga kredit bagi pelaku usaha.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Untuk menyalurkan modal kerja, Bank Lampung menyiapkan instrumen Kredit Usaha Rakyat (KUR) segmen mikro, kredit komersial, pinjaman UMKM, hingga pembiayaan rantai pasok (supply chain financing). Langkah ini dibarengi dengan penguatan kapasitas kelembagaan, digitalisasi, dan kompetensi sumber daya manusia.
Sektor pertanian menjadi prioritas utama penyaluran kredit produktif Bank Lampung dengan porsi realisasi mencapai 28% atau mendekati 30%, selaras dengan prioritas program pemerintah daerah. Sejumlah sektor UMKM seperti pengolahan singkong, kopi, jagung, perikanan, dan perdagangan kebutuhan pokok dinilai memiliki ketahanan tinggi terhadap fluktuasi ekonomi karena tingkat permintaan pasarnya yang relatif stabil.






