Warga di sejumlah kawasan Bandung Raya dikejutkan oleh suara dentuman misterius yang terdengar berulang sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Suara berintensitas rendah hingga sedang tersebut dilaporkan cukup kuat hingga menggetarkan pintu dan jendela rumah warga, memicu berbagai spekulasi mengenai sumber asalnya.
Sejumlah otoritas teknis dan pengamat kebumian menyoroti dua kemungkinan utama di balik fenomena ini, yakni perambatan gelombang akustik dari erupsi Gunung Anak Krakatau serta fenomena atmosferis yang dikenal sebagai skyquake.
Perambatan Energi Akustik Erupsi Gunung Anak Krakatau
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda mengalami rangkaian erupsi terus-menerus sejak Jumat pukul 23.07 WIB hingga Sabtu. Kepala PVMBG, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa letusan tipe freatik atau letusan eksplosif berdaya besar kerap menghasilkan pelepasan energi akustik masif yang dapat merambat melalui lapisan udara hingga jarak ratusan kilometer.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Peristiwa serupa pernah tercatat saat letusan eksplosif Gunung Kelud pada 13 Februari 2014, ketika kolom erupsi setinggi 17 kilometer menghasilkan dentuman yang terdengar hingga wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Badan Geologi menambahkan dua faktor fisik yang memungkinkan suara erupsi Krakatau menjangkau Bandung:
- Ekspansi cepat akibat pelepasan gas bertekanan tinggi dari kawah gunung api.
- Gesekan serta turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di sepanjang konduit atau saluran kepundan.
Analisis BMKG dan Hipotesis Skyquake
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi suara tersebut sebagai fenomena skyquake atau dentuman langit, mirip dengan peristiwa yang pernah terjadi di kawasan Bogor pada April 2020.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Analisis instrumen BMKG menunjukkan beberapa catatan penting terkait kondisi geologis dan cuaca saat kejadian berlangsung:
- Aktivitas Seismik: Data seismograf mengonfirmasi tidak ada peningkatan aktivitas getaran yang signifikan di sepanjang jalur Sesar Lembang pada rentang waktu terdengarnya dentuman.
- Kondisi Atmosfer: Citra satelit Himawari menunjukkan tutupan awan di Bandung Raya relatif minim dan cuaca terpantau cerah. Konsentrasi petir (thunderstorm) terpantau sangat dominan di sekitar Selat Sunda/Krakatau, sementara petir lokal di Bandung sangat sedikit.
- Anomali Wilayah Lintasan: Kendati Krakatau mengalami erupsi, masyarakat di wilayah Banten dan Jakarta yang secara geografis berada lebih dekat dengan Selat Sunda justru tidak melaporkan adanya suara dentuman serupa.
Selain faktor gelombang suara erupsi, BMKG menuturkan adanya literatur ilmiah yang mengaitkan fenomena skyquake dengan pelepasan gas metana alami dari bawah tanah. Mengingat cekungan Bandung Raya berdiri di atas endapan Danau Purba Bandung, aktivitas pelepasan gas bawah permukaan tetap menjadi salah satu hipotesis ilmiah yang melengkapi dinamika akustik tersebut.






