Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri menyelesaikan pemulihan 11.225 dokumen kependudukan milik masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penanganan kependudukan darurat ini dilakukan oleh enam tim aksi tanggap bencana yang menyisir tujuh kabupaten terdampak sejak Senin (24/8) hingga Sabtu (29/8).
Dokumen yang diterbitkan dan dipulihkan kembali meliputi Kartu Keluarga (KK), KTP-el, akta kelahiran, akta kematian, akta perkawinan, Kartu Identitas Anak (KIA), hingga surat perpindahan penduduk. Seluruh dokumen pengganti akibat bencana tersebut diterbitkan langsung tanpa dipungut biaya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, tim Ditjen Dukcapil membawa peralatan rekam dan cetak KTP-el, stok blangko, serta perangkat internet berbasis satelit Starlink. Pemanfaatan konektivitas satelit tersebut dilakukan guna menjaga sistem penerbitan dokumen tetap aktif di tengah gangguan jaringan komunikasi lokal pascagempa.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Kabupaten Manggarai Timur mencatat volume layanan tertinggi dengan total 4.507 dokumen yang dipulihkan selama empat hari operasional di lima titik posko pengungsian. Di wilayah ini, aktivitas penanganan berjalan di tengah enam kali gempa susulan berkekuatan magnitudo 3,8 hingga 5,2 pada rentang 24, 25, dan 27 Agustus. Rincian dokumen di Manggarai Timur terdiri atas 1.481 KK, 981 KTP-el, 615 pemutakhiran biodata penduduk, 561 akta kelahiran, dan 506 perekaman KTP-el.
Sebaran pemulihan dokumen di wilayah terdampak lainnya mencakup 2.257 dokumen di Sikka, 1.533 dokumen di Manggarai Barat, 1.451 dokumen di Ende, 758 dokumen di Manggarai, serta 719 dokumen di gabungan wilayah Nagekeo dan Ngada.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Respons pemulihan data kependudukan bagi kelompok rentan mendapat apresiasi dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi. Dukungan terhadap penanganan warga terdampak juga dipantau langsung oleh psikolog anak Kak Seto saat mengunjungi pengungsian di Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai pada Selasa (25/8).






