Bank Indonesia mengingatkan bahwa lanskap perekonomian global tengah berada dalam fase higher for longer, yaitu periode ketika suku bunga acuan internasional bertahan di level tinggi untuk durasi yang lebih lama.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa tren pengetatan suku bunga global ini membawa dinamika yang kurang menguntungkan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Pasalnya, suku bunga tinggi di negara maju memicu risiko keluarnya aliran modal (capital outflow) dari emerging markets menuju pasar Amerika Serikat demi mengamankan imbal hasil investasi.
Kondisi ekonomi Amerika Serikat saat ini menunjukkan pertumbuhan yang tetap solid. Namun, laju inflasi di negara tersebut kembali meningkat seiring dengan naiknya harga minyak mentah dunia. Situasi ini memperkuat peluang pengetatan moneter lanjutan oleh The Federal Reserve, dengan estimasi probabilitas sebesar 70 persen bahwa The Fed akan menaikkan Fed Fund Rate sebesar 25 basis poin pada periode September atau Oktober.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Kenaikan Yield dan Pergeseran Investasi ke Sektor AI
Kekhawatiran terhadap pengetatan kebijakan moneter global tercermin pada penguatan sejumlah indikator keuangan AS. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat bergerak naik melampaui level 99. Pada saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah bergerak mendekati level 5 persen, berada jauh di atas tingkat normalnya di kisaran 3 persen.
Kombinasi penguatan dolar dan lonjakan yield tersebut memicu fenomena flight to quality di kalangan pemodal global. Destry menjelaskan bahwa investor cenderung mengalihkan portofolio mereka ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih menarik di luar pasar negara berkembang.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Dalam dinamika pergeseran modal ini, aliran investasi internasional tercatat banyak diarahkan ke sektor teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di pasar global. Sektor-sektor inovasi tersebut dinilai pelaku pasar mampu memberikan potensi imbal hasil yang lebih besar di tengah tekanan era suku bunga tinggi dunia.






