Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terus berlangsung sejak Jumat (4/9) memicu dampak berantai terhadap sektor transportasi udara, kualitas lingkungan, hingga aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra. Kementerian Perhubungan mencatat sedikitnya 1.558 penerbangan tertunda dan sekitar 170.000 penumpang tertahan menyusul gangguan sebaran abu vulkanis di ruang udara.
Hingga Senin (7/9) pagi, penutupan operasional diterapkan di enam bandara dan diperpanjang hingga pukul 09.00 WIB. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, mengonfirmasi perpanjangan masa penutupan tersebut untuk menjamin keselamatan penerbangan. Enam fasilitas penerbangan yang ditutup meliputi Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Halim Perdanakusuma (HLP), Radin Inten II Lampung (TKG), Husein Sastranegara (BDO), Budiarto Curug (RTO), dan Pondok Cabe (PCB).
Rekayasa Rute dan Penanganan Penumpang
Dari total delapan bandara yang terdampak sejak awal erupsi, pemerintah mengalihkan sebagian arus lalu lintas udara ke beberapa bandara alternatif. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa pendaratan dan keberangkatan dialihkan antara lain ke Bandara Internasional Kertajati, Juanda Surabaya, Yogyakarta International Airport (YIA), serta bandara di Semarang dan Solo.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Bagi calon penumpang yang rute penerbangannya dipindahkan, pemerintah menyediakan fasilitas transportasi darat lanjutan tanpa biaya. Penumpang difasilitasi menggunakan moda bus dan kereta api menuju bandara alternatif maupun titik tujuan akhir guna mengurai kepadatan di bandara yang ditutup.
Pemantauan Abu Vulkanis dan Modifikasi Cuaca
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per pukul 04.00 WIB, sebaran abu vulkanis Gunung Anak Krakatau terbagi ke dalam dua klaster utama. Klaster pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan dengan ketinggian mencapai 20.000 kaki. Sementara itu, klaster kedua terpantau membubung hingga ketinggian 50.000 kaki dengan pergerakan ke arah barat daya hingga barat laut.
Untuk menekan dampak polusi partikel abu vulkanis yang mengarah ke wilayah Jabodetabek, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggencarkan operasi modifikasi cuaca sejak siang hingga malam hari. Armada pesawat untuk penyemaian awan tersebut disiagakan melalui pangkalan di Pondok Cabe.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Kebijakan Belajar Jarak Jauh
Gangguan kualitas udara akibat sebaran abu vulkanis turut mengubah pola belajar mengajar di tingkat sekolah dasar hingga menengah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan bahwa penyesuaian kegiatan belajar di daerah terdampak erupsi mengacu pada nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) setempat.
Merespons situasi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi seluruh sekolah mulai Senin, 7 September 2026. Langkah serupa diambil oleh Pemerintah Provinsi Banten melalui Surat Edaran Nomor T-400.3.1/4237/Dindikbud/2026, yang menginstruksikan PJJ bagi jenjang SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) selama tiga hari hingga Rabu, 9 September 2026. Kebijakan belajar dari rumah ini juga diberlakukan oleh pemerintah daerah di Kota Depok dan Bogor.






