Pengadilan Ekuador resmi menyatakan mantan Presiden Lenin Moreno bersalah dalam kasus suap proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Coca Codo Sinclair pada Jumat (28/8/2026). Putusan ini menandai babak akhir penanganan perkara korupsi mega proyek infrastruktur energi terbesar di negara tersebut yang turut menyeret korporasi serta mantan diplomat asal China.
Ketua Majelis Hakim Manuel Cabrera menegaskan perbuatan Moreno telah memenuhi seluruh unsur tindak pidana suap yang ditujukan kepada pejabat publik sebagaimana dakwaan jaksa. Selain mantan presiden berusia 73 tahun tersebut, vonis bersalah juga dijatuhkan kepada istri dan putrinya. Dalam proses persidangan, jaksa penuntut umum menuntut hukuman lebih dari enam tahun penjara terhadap Moreno beserta 19 terdakwa lain yang masuk dalam jaringan perkara ini.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Penyelidikan yang diinisiasi Kantor Kejaksaan Agung Ekuador sejak Maret 2023 mengungkap skema suap bernilai puluhan juta dolar. Perusahaan konstruksi asal China, Sinohydro, diduga menggelontorkan dana suap sekitar US$76,1 juta sepanjang periode 2009 hingga 2018. Aliran dana haram tersebut disamarkan lewat kontrak konsultasi fiktif, sebelum disalurkan ke berbagai rekening luar negeri dan perusahaan cangkang di wilayah suaka pajak (tax haven). Skandal ini bahkan menyeret mantan Duta Besar China untuk Ekuador ke dalam daftar pihak yang terimplikasi.
Menurut catatan jaksa, Moreno beserta kerabat dekatnya menerima aliran dana lebih dari US$1 juta saat ia masih menjabat sebagai Wakil Presiden Ekuador pada periode 2007–2013. Proyek PLTA Coca Codo Sinclair sendiri mulai beroperasi pada 2016 dan tercatat kerap mengalami sejumlah kendala teknis sejak awal pengoperasiannya.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Moreno, yang memimpin Ekuador sebagai presiden pada periode 2017–2021, secara konsisten menolak seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia berdalih tidak pernah memiliki andil maupun wewenang dalam penandatanganan dan pengawasan kontrak PLTA tersebut. Untuk mengikuti tahapan peradilan hingga pembacaan putusan, Moreno sebelumnya memutuskan kembali ke Ekuador dari Paraguay, tempat ia bermukim selama beberapa waktu terakhir.






