PT Singaraja Putra Tbk (SINI), emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro, resmi melepas seluruh kepemilikan sahamnya di anak usaha sektor perkayuan, PT Interkayu Nusantara (IKN). Langkah pelepasan aset tersebut mendatangkan dana segar puluhan miliar rupiah di tengah rencana restrukturisasi kepemilikan perseroan.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), SINI melepas 54 persen saham di PT Interkayu Nusantara kepada Hendra Hasan Kustarjo. Transaksi jual beli tersebut diteken melalui Akta Jual Beli Saham Nomor 13 pada 14 September 2026 dengan total nilai mencapai Rp31,8 miliar.
Manajemen perseroan memastikan pihak pembeli tidak memiliki hubungan afiliasi dengan SINI. Divestasi ini dijalankan sebagai bagian dari penataan dan optimalisasi portofolio investasi perusahaan, tanpa memberikan dampak negatif yang material terhadap kelangsungan kegiatan operasional perseroan.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Di Balik Penataan Portofolio dan Rencana Akuisisi CUAN
Aksi pelepasan lini bisnis kayu ini berlangsung bersamaan dengan agenda korporasi yang lebih besar. SINI sebelumnya masuk dalam radar akuisisi konglomerat Prajogo Pangestu melalui emiten tambang PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Dalam skema yang disiapkan, CUAN berencana mengambil alih SINI lewat anak usahanya, yakni PT Kreasi Jasa Persada dan PT Petrosea Tbk. Langkah tersebut ditujukan untuk memosisikan CUAN sebagai pemegang saham terbesar sekaligus pengendali baru SINI.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Kendati demikian, rencana akuisisi tersebut masih berada pada tahap negosiasi antara calon investor dan para pemegang saham SINI, mencakup kesepakatan harga, mekanisme transaksi, hingga linimasa penyelesaian. Jika aksi pengambilalihan tuntas, CUAN diwajibkan menggelar penawaran tender wajib (mandatory tender offer) bagi sisa saham publik sesuai regulasi pasar modal.
Di lantai bursa, saham SINI merespons dinamika korporasi ini secara positif dengan penguatan 4,96 persen ke level Rp13.750 per lembar saham, yang mengerek kapitalisasi pasar emiten tersebut menembus Rp16,53 triliun.






